<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fendisatria's Blog</title>
	<atom:link href="http://fendisatria.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fendisatria.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Jun 2011 16:12:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fendisatria.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Fendisatria's Blog</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fendisatria.wordpress.com/osd.xml" title="Fendisatria&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fendisatria.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>FILOSOFI SEBUAH POHON&#8212; Mengenai organisasi</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2011/06/05/146/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2011/06/05/146/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jun 2011 16:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[        Sebuah organisasi sangat cocok jika ditamsilkan dengan sebuah pohon.           Sebuah Pohon hanya akan tumbuh jika memiliki akar. Akar menjadi komponen utama ‘menghidupkan” pohon. Untuk menjalankan fungsinya, pohon membutuhkan zat makanan dan air yang diperoleh dari unsur hara tanah yang kemudian didistribusikan ke seluruh bagian pohon. Selain itu, akar pula yang akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=146&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:justify;">        <a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2011/06/pohon.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-145" title="POHON" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2011/06/pohon.jpg?w=199&#038;h=162" alt="" width="199" height="162" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah organisasi sangat cocok jika ditamsilkan dengan sebuah pohon.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-146"></span>          Sebuah <strong>Pohon</strong> hanya akan tumbuh jika memiliki akar. <strong>Akar</strong> menjadi komponen utama ‘menghidupkan” pohon. Untuk menjalankan fungsinya, pohon membutuhkan <strong>zat makanan </strong>dan<strong> air</strong> yang diperoleh dari unsur hara tanah yang kemudian didistribusikan ke seluruh bagian pohon. Selain itu, akar pula yang akan menjadi penopang jika sewaktu-waktu <strong>badai </strong>datang agar pohon tidak tumbang. Dan sudah tentu dibutuhkan akar yang kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">          Sebuah pohon hampir dikatakan bukan sebuah pohon jika tidak mempunyai daun,dan akan semakin indah jika daunnya lebat dan hijau. Zat hijau daun (klorofil) diperoleh dari proses fotosintesis yang akan sempurna dengan bantuan <strong>matahari. </strong>Walaupun matahari panas,namun turut membantu proses fotosintesis sang pohon.</p>
<p style="text-align:justify;">          Untuk melengkapi semua itu, dan betul-betul memberikan manfaat yang lebih, tentu sang pohon harus mehasilkan <strong>buah</strong>. Tidak mudah begitu saja menghasilkan buah, sebelumnya harus melewati fase menjadi sekuntum <strong>bunga</strong>. Bunga tidak akan pernah menjadi buah jika tidak ada proses perkawinan (jatuhnya benang sari ke kepala putik) dan disini dibutuhkan peran kumbang,kupu-kupu atau binatang sejenis lainnya ataupun angin untuk mempercepat proses perkawinan tersebut hingga akhirnya bunga menjadi buah.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">          Nah, siapakah <strong>akar</strong>? Dialah Ketua beserta jajaran pengurus organisasi. Jangan pernah bermimpi sebuah organisasi akan hidup jika tidak ada orang yang mengurusi. Sedangkan <strong>air </strong>dan<strong> zat makanan</strong> adalah semangat,keteguhan,sikap dan lain sebagainya yang dibutuhkan pengurus sebagai basic/dasar untuk membangun organisasi. Butuh akar yang kuat untuk menopang pohon ketika <strong>badai</strong> datang, dialah ke-solid-an, kekompakan,persatuan dan kesatuan, serta rasa kebersamaan pengurus untuk mempertahankan organisasi agar tidak hancur jika sewaktu-waktu ada masalah,rintangan/halangan atau sesuatu hal yang membahayakan organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">          Bagaimana dengan <strong>matahari</strong>? Matahari itulah sebagai sikap kritis,yaitu kritikan serta saran yang membangun (kronstruktif) dari orang lain yang ditujukan untuk organisasi. Hal itu dibutuhkan untuk proses pematangan organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">          Lantas apa yang ditamsilkan dengan <strong>bunga</strong>? Ialah program real yang akan atau sedang dilaksanakan oleh organisasi, dan pastinya diharapkan program tersebut berhasil dan hasilnya memuaskan. Untuk mewujudkan itu semua, dibutuhkan support finansial -uang maupun fasilitas (barang)- yang memadai dan inilah yang diibaratkan dengan kupu-kupu,kumbang ataupun angin untuk membantu proses jatuhnya bunga sari ke kepala putik hingga akhirnya menjadi buah. Dan <strong>buah</strong> itulah hasil dari rencana program organisasi yang telah dilaksanakan, walaupun banyak juga bunga yang jatuh sebelum menjadi buah dan itulah program-program yang tidak tidak/gagal dilaksanakan.</p>
<p style="text-align:justify;">          Akhir kalam, ternyata kita tak hanya bisa membaca dan mempelajari apa yang tertulis, namun juga mempelajari apa yang ada di alam ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat -paling tidak- menjadi landasan bagi kita dalam berorganisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Laa ghalbataa illa bil quwata, wa laa quwata illa bil i’tihad. Tidak ada kemenangan tanpa kekuatan, dan tidak akan ada kekuatan tanpa persatuan”</p>
<p style="text-align:justify;" align="right">                                                &#8212;&#8212;&#8212; Maulana Syekh Mohd. Djamil Djaho</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>By. Fendi Satria Daroesman</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=146&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2011/06/05/146/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2011/06/pohon.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">POHON</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu Sejati</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/ibu-sejati/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/ibu-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 19:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kisah ini mirip dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda&#8221;. Entah sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu yang sama-sama ingin memiliki anak. Hakim rupanya mengalami kesulitan memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadi ibu bayi itu. Karena kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=135&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em><strong>&#8220;Kisah ini mirip<a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/ibu2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-136" title="ibu2" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/ibu2.jpg?w=206&#038;h=296" alt="" width="206" height="296" /></a> dengan kejadian pada masa Nabi Sulaiman ketika masih muda&#8221;.</strong></em><span id="more-135"></span></p></blockquote>
<p>Entah  sudah berapa hari kasus seorang bayi yang diakui oleh dua orang ibu  yang sama-sama ingin memiliki anak. Hakim rupanya mengalami kesulitan  memutuskan dan menentukan perempuan yang mana sebenarnya yang menjadi  ibu bayi itu.</p>
<p>Karena  kasus berlarut-larut, maka terpaksa hakim menghadap Baginda Raja untuk  minta bantuan. Baginda pun turun tangan. Baginda memakai taktik rayuan.  Baginda berpendapat mungkin dengan cara-cara yang amat halus salah satu,  wanita itu ada yang mau mengalah. Tetapi kebijaksanaan Baginda Raja</p>
<p>Harun  Al Rasyid justru membuat kedua perempuan makin mati-matian saling  mengaku bahwa bayi itu adalah anaknya. Baginda berputus asa.</p>
<p>Mengingat  tak ada cara-cara lain lagi yang bisa diterapkan Baginda memanggil Abu  Nawas. Abu Nawas hadir menggantikan hakim. Abu Nawas tidak mau  menjatuhkan putusan pada hari itu melainkan menunda sampai hari  berikutnya. Semua yang hadir yakin Abu Nawas pasti sedang mencari akal  seperti yang biasa dilakukan. Padahal penundaan itu hanya disebabkan  algojo tidak ada di tempat.</p>
<p>Keesokan  hari sidang pengadilan diteruskan lagi. Abu Nawas memanggrl algojo  dengan pedang di tangan. Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu  diletakkan di atas meja.</p>
<p>&#8220;Apa  yang akan kau perbuat terhadap bayi itu?&#8221; kata kedua perempuan itu  saling memandang. Kemudian Abu Nawas melanjutkan dialog.</p>
<p>&#8220;Sebelum  saya mengambil tindakan apakah salah satu dari kalian bersedia mengalah  dan menyerahkan bayi itu kepada yang memang berhak memilikinya?&#8221;</p>
<div>&#8220;Tidak, bayi itu adalah anakku.&#8221; kata kedua perempuan itu serentak.</div>
<p>&#8220;Baiklah,  kalau kalian memang sungguh-sungguh sama menginginkan bayi itu dan  tidak ada yang mau mengalah maka saya terpaksa membelah bayi itu menjadi  dua sama rata.&#8221; kata Abu Nawas mengancam.</p>
<p>Perempuan pertama girang bukan kepalang, sedangkan perempuan kedua menjerit-jerit histeris.</p>
<p>&#8220;Jangan,  tolongjangan dibelah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu seutuhnya  diserahkan kepada perempuan itu.&#8221; kata perempuan kedua. Abu Nawas  tersenyum lega. Sekarang topeng mereka sudah terbuka. Abu Nawas segera  mengambil bayi itu dan langsurig menyerahkan kepada perempuan kedua.</p>
<div>Abu  Nawas minta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya.  Karena tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di  depan mata. Baginda Raja merasa puas terhadap keputusan Abu Nawas. Dan  .sebagai rasa terima kasih, Baginda menawari Abu Nawas menjadi penasehat  hakim kerajaan. Tetapi Abu Nawas menolak. la lebih senang menjadi  rakyat biasa.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=135&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/ibu-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/ibu2.jpg?w=232" medium="image">
			<media:title type="html">ibu2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abu Nawas dan Pengemis yang Kedinginan dalam Kolam</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/abu-nawas-dan-pengemis-yang-kedinginan-dalam-kolam/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/abu-nawas-dan-pengemis-yang-kedinginan-dalam-kolam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 19:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita bermakna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang saudagar di Bagdad yang mempunyai sebuah kolam yang airnya terkenal sangat dingin. Konon tidak seorangpun yang tahan berendam didalamnya berlama-lama, apalagi hingga separuh malam. “Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, aku beri hadiah sepuluh ringgit,” kata saudagar itu. Ajakan tersebut mengundang banyak orang untuk mencobanya. Namun tidak ada yang tahan semalam, paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=132&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seo<a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/index.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-133" title="index" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/index.jpg?w=645" alt=""   /></a>rang saudagar di Bagdad yang mempunyai sebuah kolam yang  airnya terkenal sangat dingin. Konon tidak seorangpun yang tahan  berendam didalamnya berlama-lama, apalagi hingga separuh malam.</p>
<p>“Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, aku beri hadiah  sepuluh ringgit,” kata saudagar itu. Ajakan tersebut mengundang banyak  orang untuk mencobanya. Namun tidak ada yang tahan semalam, paling lama  hanya mampu sampai sepertiga malam.</p>
<p><span id="more-132"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada suatu hari datang seorang pengemis kepadanya. “Maukah kamu  berendam di dalam kolamku ini semalam? Jika kamu tahan aku beri hadiah  sepuluh ringgit,” kata si saudagar.</p>
<p>“Baiklah akan kucoba,” jawab si pengemis. Kemudian dicelupkannya  kedua tangan dan kakinya ke dalam kolam, memang air kolam itu dingin  sekali. “Boleh juga,” katanya kemudian.</p>
<p>“Kalau begitu nanti malam kamu bisa berendam disitu,” kata si saudagar.</p>
<p>Menanti datangnya malam si pengemis pulang dulu ingin memberi tahu anak istrinya mengenai rencana berendam di kolam itu.</p>
<p>“Istriku,” kata si pengemis sesampainya di rumah. “Bagaimana  pendapatmu bila aku berendam semalam di kolam saudagar itu untuk  mendapat uang sepuluh ringgit? Kalau kamu setuju aku akan mencobanya.”</p>
<p>“Setuju,” jawab si istri, “Moga-moga Tuhan menguatkan badanmu.”</p>
<p>Kemudian pengemis itu kembali ke rumah saudagar. “Nanti malam jam  delapan kamu boleh masuk ke kolamku dan boleh keluar jam enam pagi,”  kata si saudagar, “Jika tahan akan ku bayar upahmu.”</p>
<p>Setelah sampai waktunya masuklah si pengemis ke dalam kolam, hampir  tengah malam ia kedinginan sampai tidak tahan lagi dan ingin keluar,  tetapi karena mengharap uang upah sepuluh ringgit, ditahannya maksud itu  sekuat tenaga. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar airnya tidak  terlalu dingin lagi. Ternyata doanya dikabulkan, ia tidak merasa  kedinginan lagi. Kira-kira jam dua pagi anaknya datang menyusul. Ia  khawatir jangan-jangan bapaknya mati kedinginan. Hatinya sangat gembira  ketika dilihat bapaknya masih hidup. Kemudian ia menyalakan api di tepi  kolam dan menunggu sampai pagi.</p>
<p>Siang harinya pengemis itu bangkit dari kolam dan buru-buru menemui  si saudagar untuk minta upahnya. Namun saudagar itu menolak membayar,  “Aku tidak mau membayar, karena anakmu membuat api di tepi kolam, kamu  pasti tidak kedinginan.”</p>
<p>Namun si pengemis tidak mau kalah, “Panas api itu tidak sampai ke  badan saya, selain apinya jauh, saya kan berendam di air, masakan api  bisa masuk ke dalam air?”</p>
<p>“Aku tetap tidak mau membayar upahmu,” kata saudagar itu ngotot.  “Sekarang terserah kamu, mau melapor atau berkelahi denganku, aku  tunggu.”</p>
<p>Dengan perasaan gondok pengemis itu pulang ke rumah, “Sudah  kedinginan setengah mati, tidak dapat uang lagi,” pikirnya. Ia kemudian  mengadukan penipuan itu kepada seorang hakim. Boro-boro pengaduannya di  dengar, Hakim itu malahan membenarkan sikap sang saudagar. Lantas ia  berusaha menemui orang-orang besar lainnya untuk diajak bicara, namun ia  tetap disalahkan juga.</p>
<p>“Kemana lagi aku akan mengadukan nasibku ini,” kata si pengemis  dengan nada putus asa. “Ya Allah, engkau jugalah yang tahu nasib  hamba-Mu ini, mudah-mudahan tiap-tipa orang yang benar engkau  menangkan.” Doanya dalam hati.</p>
<p>Ia pun berjalan mengikuti langkah kakinya dengan perasaan yang  semakin dongkol. Dengan takdir Allah ia bertemu dengan Abu Nawas di  sudut jalan.</p>
<p>“Hai, hamba Allah,” Tanya Abu Nawas, ketika melihat pengemis itu  tampak sangat sedih. “mengapa anda kelihatan murung sekali? Padahal  udara sedemikian cerah.”</p>
<p>“Memang benar hamba sedang dirundung malang,” kata si pengemis,  lantas diceritakan musibah yang menimpa si pengemis sambil mengadukan  nasibnya.</p>
<p>“Jangan sedih lagi,” kata Abu Nawas ringan. “Insyaallah aku dapat  membantu menyelesaikan masalahmu. Besok datanglah ke rumahku dan  lihatlah caraku, niscaya kamu menang dengan izin Allah.”</p>
<p>“Terima kasih banyak, anda bersedia menolongku,” kata si pengemis.  Lantas keduanya berpisah. Abu Nawas tidak pulang ke rumah, melainkan  menghadap Baginda Sultan di Istana. “Apa kabar, hai Abu Nawas?” sapa  Baginda Sultan begitu melihat batang hidung Abu Nawas. “Ada masalah apa  gerangan hari ini?”</p>
<p>“Kabar baik, ya Tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “jika tidak  keberatan patik silahkan baginda datang kerumah patik, sebab patik punya  hajat.”</p>
<p>“Kapan aku mesti datang ke rumahmu?” tanya baginda Sultan.</p>
<p>“Hari Senin jam tujuh pagi, tuanku,” jawa Abu Nawas.</p>
<p>“Baiklah,” kata Sultan, aku pasti datang ke rumahmu.”</p>
<p>Begitu keluar dari Istana, Abu Nawas langsung ke rumah saudagar yang  punya kolam, kemudian ke rumah tuan hakim dan pembesar-pembesar lainnya  yang pernah dihubungi oleh si pengemis. Kepada mereka Abu Nawas  menyampaikan undangan untuk datang kerumahnya senin depan.</p>
<p>Hari senin yang ditunggu, sejak jam tujuh pagi rumah Abu Nawas telah  penuh dengan tamu yang diundang, termasuk baginda Sultan. Mereka duduk  di permadani yang sebelumnya telah di gelar oleh tuan rumah sesuai  dengan pangkat dan kedudukan masing-masing. Setelah semuanya terkumpul,  Abu Nawas mohon kepada sultan untuk pergi kebelakang rumah, ia kemudian  menggantung sebuah periuk besar pada sebuah pohon, menjerangnya –  menaruh di atas api.</p>
<p>Tunggu punya tunggu, Abu Nawas tidak tampak batang hidungnya, maka  Sultan pun memanggil Abu Nawas, “kemana gerangan si Abu Nawas, sudah  masakkah nasinya atau belum?” gerutu Sultan.</p>
<p>Rupanya gerutuan Sultan di dengar oleh Abu Nawas, ia pun menjawab, “Tunggulah sebentar lagi, tuanku Syah Alam.”</p>
<p>Baginda pun diam, dan duduk kembali. Namun ketika matahari telah  sampai ke ubun-ubun, ternyata Abu Nawas tak juga muncul dihadapan para  tamu. Perut baginda yang buncit itu telah keroncongan. “Hai Abu Nawas,  bagaimana dengan masakanmu itu? Aku sudah lapar, kata Baginda.</p>
<p>“Sebentar lagi, ya Syah Alam,” sahut tuan rumah.</p>
<p>Baginda masih sabar, ia kemudian duduk kembali, tetapi ketika waktu  dzuhur sudah hampir habis tak juga ada hidangan yang keluar, baginda tak  sabar lagi, ia pun menyusul Abu Nawas dibagian belakang rumah, di ikuti  tamu-tamu lainnya. Mereka mau tahu apa sesungguhnya yang dikerjakan  tuan rumah, ternyata Abu Nawas sedang mengipa-ngipas api di tungkunya.</p>
<p>“Hai Abu Nawas, mengapa kamu membuat api di bawah pohon seperti itu? Tanga baginda Sultan.</p>
<p>Abu Nawas pun bangkit, demi mendengar pernyataan baginda. “Ya tuanku  Syah Alam, hamba sedang memasak nasi, sebentar lagi juga masak,”  jawabnya.</p>
<p>“Menanak nasi?” tanya baginda, “Mana periuknya?”</p>
<p>“Ada, tuanku,” jawab Abu nawas sambil mengangkat mukanya ke atas.</p>
<p>“Ada?” tanya beginda keheranan. “Mana?” ia mendongakkan mukanya ke  atas mengikuti gerak Abu Nawas, tampak di atas sana sebuah periuk besar  bergantung jauh dari tanah.</p>
<p>“Hai, Abu Nawas, sudah gilakah kamu?” tanya Sultan. “Memasak nasi  bukan begitu caranya, periuk di atas pohon, apinya di bawah, kamu tunggu  sepuluh hari pun beras itu tidak bakalan jadi nasi.”</p>
<p>“Begini, Baginda,” Abu Nawas berusaha menjelaskan perbuatannya. “Ada  seorang pengemis berjanji dengan seorang saudagar, pengemis itu disuruh  berendam dalam kolam yang airnya sangat dingin dan akan diupah sepuluh  ringgit jika mampu bertahan satu malam. Si pengemis setuju karena  mengharap upah sepuluh ringgit dan berhasil melaksanakan janjinya. Tapi  si saudagar tidak mau membayar, dengan alasan anak si pengemis membuat  api di pinggir kolam.” Lalu semuanya diceritakan kepada Sultan lengkap  dengan sikap tuan hakim dan para pembesar yang membenarkan sikap si  saudagar. “Itulah sebabnya patik berbuat seperti ini.”</p>
<p>“Boro-boro nasi itu akan matang,” kata Sultan, “Airnya saja tidak bakal panas, karena apinya terlalu jauh.”</p>
<p>“Demikian pula halnya si pengemis,” kata Abu Nawas lagi. “Ia di dalam  air dan anaknya membuat api di tanah jauh dari pinggir kolam. Tetapi  saudagar itu mengatakan bahwa si pengemis tidak berendam di air karena  ada api di pinggir kolam, sehingga air kolam jadi hangat.”</p>
<p>Saudagar itu pucat mukanya. Ia tidak dapat membantah kata-kata Abu  Nawas. Begitu pula para pembesar itu, karena memang demikian halnya.</p>
<p>“Sekarang aku ambil keputusan begini,” kata Sultan. “Saudagar itu  harus membayar si pengemis seratus dirham dan di hukum selama satu bulan  karena telah berbuat salah kepada orang miskin. Hakim dan orang-orang  pembesar di hukum empat hari karena berbuat tidak adil dan menyalahkan  orang yang benar.”</p>
<p>Saat itu juga si pengemis memperoleh uangnya dari si saudagar.  Setelah menyampaikan hormat kepada Sultan dan memberi salam kepada Abu  Nawas, ia pun pulang dengan riangnya. Sultan kemudian memerintah  mentrinya untuk memenjarakan saudagar dan para pembesar sebelum akhirnya  kembali ke Istana dalam keadaan lapar dan dahaga.</p>
<p>Akan halnya Abu Nawas, ia pun sebenarnya perutnya keroncongan dan kehausan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=132&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/abu-nawas-dan-pengemis-yang-kedinginan-dalam-kolam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/index.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">index</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Abu Nawas ? -Biografi Singkat-</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/siapa-abu-nawas-biografi-singkat/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/siapa-abu-nawas-biografi-singkat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 18:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita akan nama sang tokoh kocak “Abu Nawas”  saking masyhurnya nama tersebut hingga kadang kita tidak mengetahui siapa   nama asli dia sebenarnya. &#160; &#160; Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=127&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tentu sudah tidak asing lagi di telinga  kita akan nama sang tokoh kocak “Abu Nawas”  saking masyhurnya nama  tersebut hingga kadang kita tidak <a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/220px-abu_nuwas.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-128" title="220px-Abu_Nuwas" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/220px-abu_nuwas.jpg?w=645" alt=""   /></a>mengetahui siapa   nama asli dia  sebenarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span id="more-127"></span>Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani  al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri  Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia  mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun  militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang  bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu  kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar  berbagai ilmu pengetahuan.</p>
<p>Masa mudanya penuh perilaku  kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik  dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga  sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan  keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan  Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami.  Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad,  Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad  as-Samman. Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab  al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak  kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang  kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu  Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup  bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa  Arab.</p>
<p>Kemudian ia pindah ke Baghdad.  Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para  penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan  dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan  inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan  menjilat penguasa.</p>
<p>Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa  Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda,  berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan  angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal  di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka  bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik  perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq  al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul  bilad).</p>
<p>Sikapnya yang jenaka menjadikan  perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain  kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda  tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan  juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika  Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung  Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah  bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri  Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun  803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur  Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke  Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.</p>
<p>Sejak mendekam di penjara, syair-syair  Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah  dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih  pasrah kepada kekuasaan Allah.</p>
<p>Memang, pencapaiannya dalam menulis  puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan  gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak  tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski  dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam  kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang  justru membawa keberkahan tersendiri.</p>
<p>Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf  bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai  dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu  bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat  dalam akan masa lalunya.</p>
<p>Mengenai tahun meningalnya, banyak versi  yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula  yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M  dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh  seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam  kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.  Berikut  salah satu kisah Jenaka Abu Nawas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=127&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/22/siapa-abu-nawas-biografi-singkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/220px-abu_nuwas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">220px-Abu_Nuwas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syekh Sulaiman Ar-Rasuly</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/syekh-sulaiman-ar-rasuly/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/syekh-sulaiman-ar-rasuly/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 19:58:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Syekh Sulaiman ar-Rasuly dilahirkan di Canduang yaitu sebuah desa terletak lebih kurang 8 kilimeter sebelah timur  Kota Bukit Tinggi tepatnya di kaki gunung Merapi. Syekh Sulaiman Ar-Rasuly yang lebih populer dengan sebutan Inyiak Canduang dilahirkan dari pasangan seorang ulama yaitu Angku Muhammad Rasul dan Siti Buli’ah. &#160; &#160; &#160; &#160; Inyiak Canduang tercatat sebagai pemuda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=118&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/syeck-sulaiman-arrasuli-al-minangkbawi.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-119" title="syeck-sulaiman-arrasuli-al-minangkbawi" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/syeck-sulaiman-arrasuli-al-minangkbawi.jpg?w=645" alt=""   /></a></p>
<p><strong>Syekh Sulaiman ar-Rasuly</strong> dilahirkan di Canduang yaitu sebuah desa terletak lebih kurang 8 kilimeter sebelah timur <span style="text-decoration:underline;"> </span>Kota Bukit Tinggi tepatnya di kaki gunung Merapi. Syekh Sulaiman Ar-Rasuly yang lebih populer dengan sebutan <em><strong>Inyiak Canduang</strong></em> dilahirkan dari pasangan seorang ulama yaitu Angku Muhammad Rasul dan Siti Buli’ah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span id="more-118"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inyiak Canduang tercatat sebagai pemuda yang gigih dalam mengasah  bakat keagamaan dan mata spritualnya lewat belajar dari berbagai  tokoh-tokoh ulama ternama seperti belajar di pesantren Tuanghu Sami  Ilmiyah di Baso kemudian belajar agama dengan Syeikh Muhammad Thaib Umar  di Sungayang-Batusangkar. Dan selesai belajar dari Syeikh Muhammad  Thaid Umar ini Inyiak Canduang melanjutkan belajar agama pada Syeikh  Abdullah Halaban. Dan pada masa-masa pematangan religinya tepatnya pada  tahun 1903, Inyiak Canduang berangkat ke tanah suci dengan misi Tafaguh  Fi al-Din dengan belajar dan memperdalam ilmu agama pada Syeikh Ahmad  Khatib Al-Minangkabawy. Selain pada Syeikh Ahmad Khatib ini Inyiak  Canduang juga berupaya memperkaya khazanah pengetahuan agamanya lewat  belajar pada ulama-ulama mashur di tanah suci seperti belajar pada  Syeikh Mucthar At-Tharid, Syeikh Nawawi Al-Banteny, Sayyid Umar Bajened  dan Syeikh Sayid Babas El-Yamani.</p>
<p>Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly kembali ke ranah minang pada tahun 1907  setelah memperkaya pengetahuan agama selama tiga setengah tahun di Tanah  Suci. Secara histories kembalinya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly ke Ranah  Minang merupakan warna tersendiri bagi dakwah Islam serta perjuangan  rakyat Minangkabau dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik  Indonesia. Hal ini disebabkan tingkat perjuangan yang dilakoni oleh  Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly ini sedikit berbeda dari ulama-ulama minang  yang lain seperti halnya Buya Hamka, Syeikh Inrahim Musa yang merupakan  golongan ulama muda yang garis perjuangannya bersifat Deaktivasi  Kolonial dengan cara membakar jiwa perlawanan rakyat terhadap  kolonialisme sedangkan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly garis perjuangannya  lebih bersifat developmetisasi basisi perjuangan rakyat lewat berbagai  bidang kehidupan sehingga basisi yang dibangun oleh Syeikh Sulaiman  Ar-Rasuly ini menjadi amunisi yang ampuh dalam megusir kolonialisme di  Ranah Minang. Hal ini terbukti pada Agresi Militer Belanda I dan II ke  ranah minang, dimana peran masyarakat sipil menjadi basis kekuatan  dominan dalam membendung Agresi Belanda tersebut. Dalam hal ini Andrey  Kahin berkomentar sebagaimana yang dikunilkannya oleh Djoeir Muhammad  bahwa “laskar-laskar desa ini menjadi pasukan keamanan yang paling  tangguh di daerah”. Aktualnya komentar Andrey Kahin ini menjadi  indicator bahwa basis-bais masyarakat sipil telah dibangun oleh  tokoh-tokoh pejuang termasuk di dalammya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly  merupakan amunisi yang paling ampuh dalam mempertahankan kemerdekaan  Republik Indonesia.</p>
<p>Sejarah perjuangan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly adalah sejarahnya  mengembangkan masyarakat sipil manangkabau. Secara faktual ada beberapa  basis yang dibangun oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sehingga menjadi  piranti bagi perjuangan rakyat Sumatera Barat. Perttama : Reformasi  sistem pendidikan agama sebagai modal perjuangan rakyat minangkabau  dalam meningkatkan sumberdaya manusia. Sistem pendidikan agama di ranah  minang pada zaman sebelum datangnya Inyiak Canduang lebih bersifat  klasikal dengan metode halaqah dan hanya diajarkan mampuni. Oleh sebab  itu Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tampil sebagai reformis dalam pendidikan  agama dengan mengarahkan metode pendidikan agama tradisional mengajarkan  berbagai ilmu-ilmu agama mulai dengan ilmu-ilmu dasar bahasa arab  seperti ilmu alat (nahu, syaraf, balaqah, badi’, ilmu hadits, ilmu  qur’an dan mantiq) sampai dengan ilmu-ilmu terapan seperti (tafsir,  akhlak, fiqh, tauhid) dengan reference utamanya adalah kitab klasik.</p>
<p>Siklus dari reformasi yang dilakoni oleh Inyian Canduang ini ialah  terbentuknya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), proses berdirinya  Madrasah ini didahului oleh proses musyawarah antara ulama-ulama yang  mengaku dirinya sebagai penganut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang  bermusyawarah di canduang pada tanggal 5 Mei 1928 dalam musyawarah ini  disepakati bahwa ada reformasi sistem pendidikan agama islam dari system  klasik ke system Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Diantara ulama yang  menghadiri rapat ini ialah : Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly, Syeikh Ababs  Al-Qadhi,dari Ladang Laweh Bukittinggi, Syeikh Ahmad dari Suliki, Syeikh  Jamil Jaho dari Padang Panjang, Syeikh Abdul Wahid Ash-Shaleh dari  Suliki, Syeikh Muhammad Arifin dari Batu Hampar, Syeikh Alwi dari Koto  Nan Ampek Payakumbuh, Syeikh Jalaluddin dari Sicincin Pariaman, Syeikh  Abdul Madjid dari Koto Nan Gadang dan HMS Sulaiman dari Bukittinggi.  Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang pertama didirikan oleh Syeikh Sulaiman  Ar-Rasuly adalah MTI yang ada di Canduang pada bulan Mei 1928, lantas  diberi nama dengan MTI CANDUANG kemudian baru diikuti oleh MTI Jaho di  Padang Panjang yang dipimpin oleh Syeikh Jamil Jaho, kemudian disusul  dengan berdirinya MTI Tabek Gadang Payakumbuh oleh Syeikh abdul Wahid  Shaleh. Secara genetif MTI Canduang merupakan poros dari eksistensi  MTI-MTI yang tersebar di Nusantara, tercatat sampai sekarang ada sekitar  216 Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang eksis di Sumatera Barat. Langkah  yang dilakukan oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam mereformasi sistem  pendidikan di Minangkabau merupakan pondasi bagi pengembangan basis  perjuangan rakyat yang dipandang sebagai modal untuk mensupply  sumberdaya manusia dalam rangka memperkuat kaum cendikia dan ulama yang  mampu mengorbankan semangat rakyat dalam mencapai dan mempertahankan  kemerdekaan Republik Indonesia.</p>
<p>Kedua :Formulasi partai politik sebagai manifestasi Political Power  (kekuatan Politik) dalam rangka memperkuat perjuangan kemerdekaan. Pada  tanggal 28 Mei 1930 Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly memperkasai berdirinya  PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) yang berfungsi sebagai pengelola  Madrasah-Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang berada di bawah naungannya.  Namun disebabkan gejolak revormasi pada tahun 1946 Organisasi PERTI yang  khitahnya bergerak sebagai organisasi sosial keagamaan beralih fungsi  menjadi Partai Politik. Peralihan fungsi PERTI ini menjadi partai  politik disebabkan argumen KH. Sirajuddin Abbas murid Inyiak Canduang  bahwa “Agama Jaga Harus Memberi Arah Pada Perjuangan Politik Bangsa”.  PERTI dalam sejarah perpolitikan di Indonesia mempunyai andil yang cukup  besar dalam memobilisasi rakyat dalam mensukseskan misi revolusi  kemerdekaan Republik Indonesia. Namun seiring dengan waktu, perpecahan  dalam tubuh PERTI tidak dapat dihindari karena adanya perebutan  kekuasaan, perpecahan ini men gecewakan pendiri PERTI khususnya Syeikh  Sulaiman Ar-Rasuly sehingga demi menyelamatkan PERTI beliau mengeluarkan  Dekrit pada Tanggal 1 Mei 1969 agar PERTI kembali kepada khittahnya  sebagai organisasi yang bergerak di bidang social dan keagamaan.</p>
<p>Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tercatat sebagai negarawan yang mempunyai  visi yang tajam tentang organisasi kemasyarakatan dalam rangka mengemban  misi kemerdekaan Indonesia, karier politik Inyiak Canduang ini dimulai  pada tahun 1918 hal ini terbukti dengan jabatan yang dipangkunya sebagai  presiden anak cabang Serikat Islam untuk kabupaten Agam.</p>
<p>Karier Politik Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly berlanjut pada masa  pendudukan Jepang, pada masa pendudukan Jepang kedudukan partai-partai  Islam terancam pupus disebabkan intrik Jepang yang berusaha melenyapkan  Partai-Partai Islam yang mereka pandang sebagai basis perjuangan rakyat  Minangkabau. Dan intrik Jepang ini sempat terlaksana dengan cara  meleburkan partai-partai islam yang ada di Sumatera Barat, hal ini dapat  kita amati dari terbentuknya Majelis Islam Tinggi Minangkabau (MTIM)  pada tahun 1943, dimana Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly di serahi sebagai  ketua umum dan A. Ghaffar Jambek sebagai ketua I, HMD Panglimo Kayo  sebagai sekretaris umum, MR. Mahmud Yunus memimpin Dewan Pengajaran, AR.  Sutan Mansur mewakili Muhammadiyah, sedangkan H. Sirajuddin Abbas  mewakili PERTI. Pada zaman kemerdekaan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sempat  diserahi tugas oleh Soekarno sebagai anggota konstituante RI, dan di  tempatkan sebagai Dewan Kehormatan dengan menjadi pemimpin sidang pada  sidang-sidang konstituante tersebut. Pada tahun 1947 Mr. Sotan Muhammad  Rasyid, menyerahi Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sebagai kepala Mahkamah  Syar’iyah propinsi Sumatera Tengah dalam rangka mengurusi problematika  syar’iyah dan sekaligus ulama yang berperan sebagai pengobar semangat  perjuangan rakyat dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dari agresi  militer Belanda.</p>
<p>Ketiga : Mendorong terbentuknya laskar-laskar rakyat yang pada  akhirnya menjadi kekuatan dominan dalam mempertahankan kemerdekaan  Republik Indonesia. Peran yang dilakoni oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly  tidak terbatas pada skala sosial dan agama saja, namun juga mendorong  lahirnya kekuatan-kekuatan pra-militer yang berfungsi sebagai laskar  yang menjaga dan mengawal daerah dimana mereka bertugas. Dalam hal  sejarah mencatat peran Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam hal ini berawal  ketika Jepang mengusulkan dan berdiskusi dengan Syeikh Sulaiman  Ar-Rasuly agar dibentuk laskar-laskar rakyat yang aktualnya Jepang ingin  mengambil manfaat sebagai tambahan kekuatan militer dalam rangka  menghadapi perang Asia Raya. Terlepas dari itu upaya Syeikh Sulaiman  Ar-Rasuly dalam membentuk laskar-laskar rakyat membawa dampak positif  yang cukup besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari  pendudukan Belanda kembali (Agresi Militer Belanda I dan II) Menyingkapi  ususlan Jepang di atas Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly membentuk laskar  rakyat Sumatera Barat dan kemudian diusulkan terbentuknya laskar muslim  oleh PERTI, Hisbullah oleh Muhammadiyah, Barisan Sabilillah oleh MITM  dan disusul dengan terbentuknya GPII, setelah Jepang kalah. Prediksi  Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tentang manfaat pembentukan laskar-laskar  rakyat ternukti sebagai kekuatan utama yangmembela kemerdekaan  Indonesia, hal ini disebabkan karena kemampuan militer yang di dapat  dari Jepang menjadi amunisi tersendiri bagi perjuangan mempertahankan  kemerdekaan Republik Indonesia.</p>
<p>Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly wafat pada tanggal 1 Agustus 1970, wafatnya  Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly meningkalkan luka yang dalam bagi rakyat  Indonesia, karena hilangnya salah seorang pejuang kemerdekaan dan ulama  yang kharismatik dari roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun  demikian sebagai pejuang dan ulama besar yang memiliki kepribadian yang  luhur, garis perjuangannya serta amalannya bagi nusa dan bangsa patut  dijadikan teladan bagi generasi muda saat ini. Jasa Syeikh Sulaiman  Ar-Rasuly sebagai perintis kemerdekaan dan pengemban agama Islam tidak  akan ternilai hanya dengan penghargaan Oranye Van Nassau dari  pemerintahan Belanda, serta menobatkan beliau sebagai pahlawan perintis  kemerdekaan dan dianugerahi tanda penghargaan sebagai ulama pendidik.  Namun yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah dan semua komponen  rakyat mengintegrasikan nilai-nilai perjuangan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=118&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/syekh-sulaiman-ar-rasuly/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/syeck-sulaiman-arrasuli-al-minangkbawi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">syeck-sulaiman-arrasuli-al-minangkbawi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syeikh Haji Muhammad Muda Waly Al-Khalidy</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/syeikh-haji-muhammad-muda-waly-al-khalidy/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/syeikh-haji-muhammad-muda-waly-al-khalidy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 18:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Muda Waly Al khalidy dilahirkan di Desa Blang poroh,kecamatan Labuhan Haji,kabupaten Aceh Selatan,pada tahun 1917.Beliau adalah putra bungsu dari Sheikh H.Muhammad Salim bin Malin Palito.Ayah beliau berasal dari Batu sangkar,Sumatra Barat.Beliau datang keAceh Selatan selaku da`i.Sebelumnya,paman beliau yang masyhur dipanggil masyarakat Labuhan Haji dengan Tuanku Pelumat yang nama aslinya Sheikh Abdul Karim telah lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=113&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>S</strong>yeikh Muda Waly Al khalidy dilahirkan di Desa Blang poroh,kecamatan  Labuhan Haji,kabupaten Aceh Selatan,pada tahun 1917.Beliau adalah p<a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/abuya.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-114" title="ABUYA" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/abuya.jpg?w=181&#038;h=250" alt="" width="181" height="250" /></a>utra  bungsu dari Sheikh H.Muhammad Salim bin Malin Palito.Ayah beliau berasal  dari Batu sangkar,Sumatra Barat.Beliau datang keAceh Selatan selaku  da`i.Sebelumnya,paman beliau yang masyhur dipanggil masyarakat Labuhan  Haji dengan Tuanku Pelumat yang nama aslinya Sheikh Abdul Karim telah  lebih dahulu menetap di Labuhan Haji.</p>
<p><span id="more-113"></span></p>
<div id="content">
<div id="post-4">
<div>Tak lama setelah Sheikh Muhammad salim menetap di Labuhan Haji,beliau  dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Siti Janadat,putri seorang  kepala desa yang bernama Keuchik Nya` Ujud yang berasal dari Desa Kota  Palak,Kecamatan Labuhan Haji,Aceh Selatan. Siti Janadat meninggal dunia  pada saat melahirkan adik dari Sheikh Muda Waly.Beliau meninggal bersama  bayinya.Syekh Muhammad salim sangat menyayangi Sheikh Muda Wali  melebihi saudaranya yang lain.Kemana saja beliau pergi mengajar dan  berda`wah Sheikh Muda Waly selalu digendong oeh ayahnya.Mungkin Sheikh  Muhammad Salim telah memiliki firasat bahwa suatu saat anaknya ini akan  menjadi seorang ulama besar, apalagi pada saat Sheikh Muda Waly masih  dalam kandungan , beliau bermimpi bulan purnama turun kedalam  pangkuannya .<br />
Nama Syeikh Muda Waly pada waktu kecil adalah Muhammad Waly.Pada saat  beliau berada di Sumatra Barat,beliau dipanggil dengan gelar Angku Mudo  atau Angku Mudo Waly atau Angku Aceh.Setelah beliau kembali ke Aceh  masyarakat memanggil beliau dengan Teungku Muda Waly.Sedangkan beliau  sering menulis namanya sendiri dengan Muhammada Waly atau lengkapnya  Syekh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy.</div>
<div><strong>Perjalanan pendidikannya</strong><br />
Syekh Muda Waly belajar belajar Al-Qur an dan kitab-kitab kecil tentang  tauhid,fiq,dan dasar ilmu bahasa arab kepada ayahnya.Disamping itu  beliau juga masuk sekolah Volks-School yang didirikan oleh  Belanda.Setelah tamat sekolah Volks School,beliau dimasukkan kesebuah  pesantren diibu kota Labuhan Haji,Pesantren jam`iah Al-Khairiyah yang  dipimpin oleh Teungku Muhammad Ali yang dikenal oleh masyarakat dengan  panggilan Teungku Lampisang dari Aceh Besar sambil beliau sekolah di  Vervolg School.Setelah lebih kurang 4 tahun beliau belajar di pesantren  Al-Khairiyah beliau diantarkan oleh ayahnya ke pesantren Bustanul Huda  di ibukota kecamatan Blangpidie.Sebuah pesantren Ahlussunnah wal jama`ah  sama seperti Pesantren Al-Khairiyah,yang dipimpin oleh seorang ulama  besar yang datang dari Aceh Besar,Syekh Mahmud.Dipesantren Bustanul  Huda,barulah beliau mempelajari kitab – kitab yang masyhur dikalangan  ulama Syafi`iyah seperti I`anatut Thalibin,Tahrir,dan Mahally dalam ilmu  fiqh,Alfiyah dan Ibn `Aqil dalm ilmu nahwu dan sharaf.</div>
<div>
<p>Setelah beberapa tahun di Pesantren Bustanul Huda,terjadilah satu  masalah antara beliau dengan gurunya,Teungku Syekh Mahmud.Yaitu  perbedaan perdapat antara beliau dengan gurunya tersebut tentang masalah  berzikir dan bershalawat sesudah shalat didalam masjid secara  jahar.Dikemudian harinya Syekh Muda waly ingin melanjutkan pendidikan  kepesantren lainnya di Aceh Besar,tetapi sebelumnya, ayah syekh Muda  Waly,Haji Muhammad Salim meminta izin kepada Syekh Mahmud,minta do`anya  untuk dapat melanjutkan pendidikan kepesantren lainya dan yang  terpenting meminta maaf atas kelancangan Syekh Muda Waly berbeda  pendapat dengan gurunya dalam masalah tersebut.Berkali kali beliau dan  ayahnya meminta ma`af kepada Syekh Mahmud tetapi beliau tidak  menjawabnya.Pada akhirnya setelah beliau kembali dari Sumatra Barat dan  Tanah suci,Makkah,maka timbullah kasus di kecamatan Blang Pidie.Ada  seorang ulama dari kaum Muda dari PUSA(Persatuan Ulama Seluruh Aceh)yang  bernama Teungku Sufi, mendirikan Madrasah Islahul Umum di Susuh,Blang  Pidie,berda`wah dan membangkitkan masalah –masalah khilafiyah.Dalam satu  perdebatan terbuka diibukota kecamatan Blang Pidie,dia mengungkapkan  dalil dan alasannya sehingga hampir kebanyakan ulama termasuk Teungku  Haji Muhammad Bilal Yatim dapat dikalahkan.Tetapi pada waktu giliran  perdebatan Teungku Sufi tersebut dengan Syekh Muda Waly semua dalil dan  alasannya beliau tolak,beliau hancurkan tembok-tembok alasannya sehingga  kalah total didepan umum.Tak lama setelah itu barulah Syekh Mahmud  mema`afkan kesalahan Syekh Muda Waly yang berani berbeda pendapat dengan  gurunya tersebut pada waktu masih belajar di Bustanul Huda.</p>
</div>
<div>Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda,beliau mengungkapkan  niatnya untuk melanjutkan pendidikannya kepesantren di Aceh Besar kepada  ayahnya,Syekh H.Muhammad Salim.Ayah beliau sangat senang mendengarkan  niat beliau.Apalagi Syekh H.Muhammad Salim telah mengetahui bahwa  putranya ini telah menamatkan kitab-kitab agama yang dipelajari di  Pesantren Bustanul Huda.<br />
Sebagai bekal dalam perjalanan beliau dari Labuhan Haji,ayahanda beliau  memberikan sebuah kalung emas yang lain merupakan milik kakak kandung  Syekh Muda Waly,yaitu Ummi Kalsum.Beliau diantar oleh ayahanda beliau  dari desanya sampai ke kecamatan Manggeng.Setelah sampai ke  Manggeng,ayahanda beliau berkata”Biarkan aku antarkan engkau sampai ke  Blang Pidie”.Sesampainya di Blang Pidie,Syekh Muhammad Salim berkata  kepada putranya,Syekh Muda Waly”biarkan aku antarkan engkau sampai ke  Lama Inong”.Pada kali yang ketiga ini Syekh Muda Waly merasa  keberatan,karena seolah olah beliau seperti tidak rela melepaskan  anaknya merantau jauh untuk menuntut ilmu.Syekh Muda Waly berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang  juga merupakan tamatan dari pesantren Busranul Huda,namanya Teungku  Salim,beliau merupakan seorang yang cerdas dan mampu membaca kitab-kitab  agama dengan cepat dan lancar.</div>
<div>Sesampainya di Banda Aceh,beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng  Kale yang dipimpin oleh Syekh H.Hasan Krueng Kale,ayahanda dari Syekh  H.Marhaban,menteri muda pertanian Indonesia para masa Sukarno.Beliau  sampai di Pesantren Krueng kale pada pagi hari,pada saat syekh Hasan  Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama.Dianatar kiatabynag  dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun.Syekh Muda Waly mengikuti pengajian  tersebut.Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut,dengan  kalimat terkhit Wa huwa hasbi wa ni`mal wakil.Setelah selesai pengajian  Syekh Muda Waly merasa bahwa syarahan syarahan yangdiberikan oleh Syekh  Hasan Krueng Kaletidak lebihdari pengetahuan yang beliau miliki dan  apabial beliau membacakan kitab tersebut maka beliau juag akan sanggup  menjelaskan seperti syarahann yang dipaparkan oleh Syekh Hasan  Basri.Walaupun demikian beliau tetang menganggap Syekh Hasan KruengKale  sebagai guru beliau .Bagi Syekh Muda Waly,cukuplah sebagai bukti  kebesaran Syekh Hasan Krueng Kale,apabila guru beliau Syekh Mahmud Blang  Pidie adalah seorang alumnus Pesantren Kuerng Kale.Syekh Muda Waly  hanya satu hari di Pesantren krueng Kale.Beliau bersama Tengku Salim  mencari pesantren lain untuk menambah ilmu.Akhirnya merekapun  berpisah.Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh yaitu Syekh  Hasballah Indrapuri,beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri.pesantren  ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur an yang berkaitan dengan qiraat dan  lainnya.Syekh Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu  Al –Quran masih kurang.inilah yang mendorong beliau untuk memasuki  Pesantren Indrapuri.Pesantren Indrapuri tersebut dalam simtem belajar  sudah mempergunakan bangku,satu hal yang baru untuk kala itu.Pada saat  mengikuti pelajaran,kebetulan ada seorang guru yang membacakan  kitab-kitan kuning,Syekh Muda Waly tunjuk tangan dan mengatakan bahwa  ada kesalahan pada bacaan dan syarahannya,maka beliau meluruskan bacaan  yang benar beserta syarahannya.Dari situlah Ustad dan murid-murid kelas  itu mulai mengenal anak muda yang baru datang kepesantren itu dan  memiliki pengetahuan yang luas.Maka ustad tersebut mengajak beliau  kerumahnya dan memerintahkan kepada pengurus pesantren untuk  mempersiapakan asrama temapat tinggal untuk beliau,kebetulan sekali pada  saat itu perbekalan yang dibawa Syekh Muda Waly sudah habis,maka dengan  adanya sambutan dari pengurus pesantren tersebut beliau tidak susah  lagi memikirkan belanja.<br />
Pimpinan Pesantren Indrapuri tersebut,Teungku Syekh Hasballah Indrapuri  sepakat untuk mengangkat Syekh Muda Waly sebagai salah satu guru senior  di Pesantren tersebut.Semenjak saat itu Syekh muda Waly mengajar di  pesantren tersebut tanpa mengenal waktu.Pagi,siang,sore dan malam semua  waktunya dihabiskan untuk mengajar.Tinggallah sisa waktu luang hanya  antara jam dua malam sampai subuh.Waktu waktu itupun tetap diminta oleh  sebagian santri untuk mengajar.Selama tiga bulan beliau mengajar di  Dayah tersebut.Karena padatnya jadwal beliau dan beliau kelihatan  kurus,tetapi alhamdulillah walaupun demikian beliau tidak sakit.<br />
Setelah sekian lamanya di Pesantren Indrapuri,datanglah tawaran dari  salah seorang pemimpin masyarakat yaitu Teuku Hasan Glumpang payung  kepada Syekh Muda Waly untuk belajar ke sebuah perguruan di  Padang,Normal Islam School yang didirikan oleh seorang ulama tamatan  Al-Azhar,Mesir Ustad Mahmud Yunus.Teuku Hasan tersebut setelah  memperhatikan pribadi syekh Muda Waly,timbullah niat dalam hatinya bahwa  pemuda ini perlu dikirim ke Al-Azhar,Mesir.Tetapi karena di Sumatra  Barat sudah terkenal ada seorang Ulama yang telah menamatkan  pendidikannya di Al Azhar dan Darul Ulum di Cairo,Mesir yang bernama  Ustad Mamud Yunus yag telah mendirikan sebuah perguruan di Padang yang  bernama Normal Islam School yang sudah terkenal kala itu melebihi  perguruan perguruan sebelumnya seperti Sumatra Thawalib.Oleh sebab itu  Teuku Hasan mengirimkan Syekh Muda Waly ke pesantren tersebut sebagai  jenjang atau pendahuluan sebelum melanjutkanke al Azhar.<br />
Berangkatlah Syekh Muda Waly menuju Sumatra barat dengan kapal  laut.Beliau sama sekali tidak mengetahui tentang Sumatra Barat sedikit  pun,dimana letak Normal Islam School dan kemana beliau harus  singgah.tiba tiba saja ada seorang penumpang yang telah lama  memperhatikan tingkah laku dan gerak gerik Syekh Muda Waly selama di  kapal ,bersedia membantu Syekh Muda Waly untuk bisa sampai ketempat yang  beliau tuju.<br />
Setelah sampai di Normal Islambeliau segera mendaftarkandiri di Sekolah  tersebut. Lebih kurang tiga bulan beliau di Normal Islam dan akhirnya  beliau mengundurkan diri dan keluar dengan hormat dari Lembaga  pendidikan tersebut.Hal ini beliau lakukan dengan beberapa alasan :<br />
1.Cita-cita melanjutkan pendidikan kemana saja termasuk ke Normal Islam  dengan tujuan memperdalm ilmu agama,karena cita-cita beliau  mudah-mudahan beliau menjadi seorang ulama sperti ulama ulam besar  lainnya.Tetapi rupanya ilmu agama yangdiajarkan di normal Islam amat  sedikit.Sehingga seolah olah para pelajar disitu sudah dicukupkan ilmu  agamanya dengan ilmu yang didapati sebelum memasuki pesantren tersebut.<br />
2.Di normal Islam pelajaran umum lebih banyak diajrakan ketimbang  pelajaran agama.Disana diajarkan ilmu  matematika,kimia,biologi,ekonomi,ilmu falak,sejarah Indonesia,bahasa  inggris.bahasa belanda,ilmu khat dan pelajaran olahraga.<br />
3. Di normal Islam beliau harus menyesuaikan diri dengan peraturan  peraturan di lembaga tersebut,Di situ para pelajar diwajibkan memakai  celana ,memakai dasi,ikut olah raga disamping juga mengikuti pelajaran  umum diatas.Menurut hemat Syekh Muda Waly,kalau begini,lebih baik beliau  pulang ke Aceh mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah beliau  miliki daripada menghabiskan waktu dan usia di Sumatra Barat.</div>
<div>Setelah beliau keluar dari Normal Islam,beliau bertemu dengan salah  seorang pelajar yang juga berasal dari Aceh dan sudah lama di Padang  yaitu Ismail Ya`qub,penerjemah Ihya `ulumuddin .Bapak Ismail Ya`qub  menyampaikan kepada Syekh Muda Waly supaya jangan cepat cepat pulang ke  Aceh,tetapi menetaplah dulu di Padang,barangkali ada manfaatnya.<br />
Pada suatu sore beliau mampir untuk berjamaah maghrib di sebuah surau  yaitu di Surau Kampung Jao.Setelah shalat maghrib kebiasaan disurau itu  diadakan pengajian dan seorang ustaz mengajar dengan membaca kitab  berhadapan dengan para jamaah.rupanya apa yang di baca oleh ustaz itu  beserta syarahan yang di sampaikan menurut Syekh Muda Waly tidak  tepat,maka beliau membetulkan.sehingga ustaz itu dapat  menerima.sedangkan jamaah para hadirin bertanya-tanya tentang anak muda  yang berani bertanya dan membetulkan pendapat ustaz itu.<br />
Akhirnya para jamaah beserta ustaz tersebut meminta beliau supaya datang  kesurau itu untuk menjadi imam solat dan mengajarkan ilmu agama .  Begitulah dari hari ke hari,ayahku mulai dikenal dari satu surau ke  surau yang lain , dan dari satu mesjid ke mesjid yang lain. Apalagi  beliau bukan orang padang, tetapi dari daerah Aceh dan nama Aceh sangat  harum dalam pandangan ummat islam Sumatra barat. Dan yang lebih  mengagumkan lagi ialah kemahiran beliau dalam ilmi fiqh, tasawwuf, nahu  dan lain. Barulah sejak itu beliau dipangil oleh masyarakat dengan Angku  Mudo atau Angku Aceh.<br />
Pada masa itu pula sedang hangat-hangatnya di Sumatra Barat tentang  masalah- masalah keagamaan yang sifatnya adalah sunat-sunat’ seperti  masalah usalli,masalah hisab dalam memulai puasa Ramadan,hari raya ‘Id  al –fitr dan lain lain.Terjadilah perdebatan antara kelompok kaum tua  dengan kelompok kaum muda.<br />
Syekh Muda Waly berasal dari Aceh dalam kelahiran,dan  pendidikannyai,tentu saja berpendirian dalam semua masalah masalah itu  seperti pendirian para ulama Aceh sejak zaman dahulu,karena semua ulama  Aceh khususnya dalam bidang syari’at dan fiqh islam tidak ada  bertentangan antara yang satu dengan yang lain.Apalagi ulama ulama Aceh  zaman dahulu seperti syeikh Nuruddin al-Raniri,Syeikh Abdul Rauf  al-fansuri al-singkili [Syiahkuala],Ssyeikh Hamzah Fansuri,Syekh  Syamsuddin Sumatrani dan lain lain.Semuanya bermazhab Syafi`I dan antara  mereka tidak terjadi pertentangaan dalam syari“at dan fiqh Islam  kecuali hamya perbedaan pendapat dalam masalah tauhid yang pelikdan  sangat mendalam ,yaitu masalah Wahdah al-Wujud,juga masalah hukum Islam  yang berkaitan dengan politik,seperti masalah wanita menjadi raja.<br />
Karena itulah maka semua masalah masalah kecil di atas sangat dikuasai  oleh Syekh Muda Waly dalil dalil hukum dan alasan alasannya ,al Qur’an  dan hadist ,dan juga dari kitab kitab kuning. Karena itulah ,maka  terkenallah beliau di kota padang dan mulai dikenal pula oleh seorang  ulama besar di kota padang itu,yaitu syeikh Haji Khatib Ali,ayahandanya  Prof.Drs.H. Amura.Syeikh Khatib Ali ulama besar ahli al-sunnah wa  al-jama’ah dipadang .Murid daripada Syeikh Ahmad Khatib di Mekkah Al-  Mukarramah.beliu mendapat ijazah ilmu agama dari Syeikh Ahmad Khatib dan  mendapat pula ijazah Tariqat Naqsyabandiyah daripada Syeikh Ustman  Fauzi Jabal Qubais Mekkah al-mukarramah.Yang menjadikan beliu terkenal  di padang karena kegigihannya mempertankan `aqidah ahli al-sunnah wa  al-jama`ah dan mazhab syafi`i, di samping pula beliu adalah menantu  seorang ulama besar dalam ilmu syari`at dan tariqat,yaitu Syeikh sa`ad  Mungka. Syeikh sa`ad Mungka .Syekh Khatib Ali sangat tertarik kepada  Syekh muda Waly sehingga beliau menjodohkan Syekh Muda Waly dengan  seorang family beliau yaitu Hajjah Rasimah,yang akhirnya melahirkan  Syekh prof.Muhibbuddin Waly.Sejak itulah kemasyhuran Syekh Muda Wali  semakin meningkat dan terus ditarik oleh ulama-ulama besar lainnya dalam  kelompok para ulama kaum tua,tetapi beliau secara tidak langsung juga  mengambil hal-hal hal yang baik dari ulama-ulama lainnya, seperti orahg  tuanya Buya Hamka,Haji rasul.<br />
Kemudian Syekh Muda waly juga berkenalan dengan Syekh Muhammad Jamil  Jaho .Maka beliau mengikuti pengajian yang diberikan oleh Ulama besar  Padang tersebut.Hubungan beliau dengan Syekh Muda Waliy pada mulanya  hanya sekadar guru dan murid.Syekh Jamil Jaho adalah seorang Ulama  Minangkabau,murid Syekh Ahmad Khatib.Beliau diakui kealimannya oleh  ulama lainnya terutama dalam ilmu bahasa arab.Di Pesantren jaho itulah  Syekh Muhammad Jamil Jaho mengumpulkan murid muridnya yang pintar untuk  mencoba pengetahuan Syekh Muda Waly pada lahiriyahnya mereka seperti  mengaji pada Syekh Muda Waly tapi pada hakikatnya adalah untuk menguji  dan mencoba Syekh Muda Waly dengan berbagai ilmu alat..Rupanya semua  debatan tersebut dapat dijawab oleh Syekh Muda Waly.Dari situlah,Syekh  Muda Waly semakin terkenal dikalangan para ulama Minangkabau .Akhirnya  Syekh Muda Waly dinikahkan dengan putri Syekh Muhammada Jamil Jaho yaitu  dengan seorang putrinya yang juga alim,Hajjah Rabi`ah yang akhirnya  melahirkan Syekh H.Mawardi Waly.Akhirnya syekh Muda Waly menempati rumah  pemberian paman istri beliau yang pertama,Hajjah Rasimah .Rumah itu  terdiri dari dari dua tingkat.Pada bagian bawahnya di gunakan sebagai  madrasah tempat majlis ta`lim<br />
Apabila datang hari hari besar islam ummat Islam di Kota Padang beramai  ramai datang kerumah tersebut.Para Ulama Kota Padang khususnya sering  berdatangan ke rumah tersebut karena bila tak ada undangan Syekh Muda  Waly sibuk mengajar dan berdiskusi dengan para ulama lainnya Apalagi  dalam rumah itu juga tinggal seorang ulama besar lain,Syekh Hasan  Basri,menantu dari Syekh Khatib `Ali Padang dan suami dari Hajjah  Aminah, ibunda dari istri beliau Hajjah Rasimah .Pada tahun 1939 Syekh  Muda Waly menunaikan ibadah haji ketanah suci bersama salah seorang  istri beliau Hajjah rabi`ah .Selama di Makkah beliau tidak  menyia-nyiakan waktu dan kesempatan .Selain menunaikan ibadah haji,  beliau juga memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu pengetahuan dari ulama  ulama yang mengajar di Masjidil Haram antara lain Syekh Ali Al  Maliki,pengarang Hasyiah al – Asybah wan nadhaair bahkan beliau mendapat  ijazah kitab kitab hadis dari Syekh Ali Al Maliki .<br />
Selama di Makkah Syekh Muda Waly seangkatan dengan Syekh Yasin Al  fadani,seorang ulaam besar keturunan Padang yang memimpin Lembaga  Pendidikan Darul Ulum di Makkah al mukarramah .<br />
Pada waktu Syekh Muda Waly berada di Madinah pada setiap saat shalat  beliau selalu menziarahi kuburan yang mulia Rasulullah Saw.Pada waktu  itu siapa saja yang menziarahi kuburan Nabi secara dekat, akan dipukul  oleh polisi dengan tongkatnya.tetapi pada saat Syekh Muda Waly sedang  bermunujat dekat makam Rasullualah,beliau didekati oleh polisi,ingin  memukul beliau,maka Syekh Muda Waly langsung berbicara dengan polisi  tersebut dengan bahasa arab yang fasih sehingga polisi tersebut tertarik  dengan beliau dan membiarkan beliau duduk lama didekat maqam Nabi  SAW.Di Madinah Syekh Muda Waly berdiskusi dengan para ulama ulama dari  negeri lain terutama dari Mesir.Beliau tertarik dengan dengan  perkembangan ilmu pengetahuan di negeri Mesir,sehingga beliau sudah  bertekat menuju ke Mesir,tetapi beliau lupa bahwa pada saat itu beliau  membawa istri beliau Hajjah Rabi`ah.Istri beliau keberatan ditinggalkan  untuk pulang ke Indonesia.akhirnya beliau urung berangkat ke Mesir.<br />
Selama beliau di Makkah ataupun Madinah beliau tak sempat mengambil  ijazah dalam Tahariqat apapun.Hal ini kemungkinan besar karena dua hal :<br />
1.Karena beliau berada di tanah suci lebih kurang hanya tiga bulan  ,waktu yang sangat singkat bagi beliau yang mempunyai cita-cita besar  untuk menggali ilmu dari berbagai ulama.Sehingga habislah waktu beliau  hanya untuk menemui dan berdiskusi dengan para ulama lainnya.<br />
2.pada umumnya para pelajar yang datang ke Tanah suci untuk mengamalkan  thariqat,mengambil ijazah, dan berkhalwat harus berada di tanah suci  pada bulan Ramadan.Karena pada bualn Ramadan halaqah pengajian sepi  bahkan libur.Semua waktu dalam bulan Ramadhan dutujukan untuk  beribadah.Sedangkan Syekh Muda Waly berada di Tanah suci bukan dalam  bulan Ramadhan .<br />
Kepulanngan Syekh Muda Waly dari tanah suci beliau mendapat sambutan  dari murid murid beliau serta dari ulama ulama Minangkabau lainnya  seoerti Syekh `Ali Khatib,syekh Sulaiman Ar Rasuli,Buya syekh Jamil  Jaho.Hal ini dikarenakan,dengan kembalinya Syekh Muda Waly,maka  bertambah kokoh dan kuatlah benteng Ahlussunnah wal jamaah di padang  khususnya.<br />
Dikalangan ulama ulama besar itu,Syekh Muda Waly merupakan yang termuda  diantar mereka,sehingga dalam perdebatan perdebatan ilmu keagamaan yang  populer pada masa itu,Syekh Muda Waly lebih didahulukan oleh ulama dari  kelompok kaum tua untuk menghadapi ulama dari kaum muda .Uniknya kedua  belah pihak (Ulama kaum Tua dan Ulama kaum Muda) menampilkan orang orang  muda dari kedua belah pihak.Sehingga antara ulama tua dari kedua belah  pihak seolah olah tidak terjadi perbedaan pendapat.<br />
Walaupun Syekh Muda Waly telah memiliki ilmu pengetahuan agama yang  luas,namun ada hal yang belum memuaskan hati beliau yaitu ilmu yang  beliau miliki belum mampu menenangkan batin beliau ,akhirnya beliau  memutuskan untuk memasuki jalan tasauf sebagaiman yang telan ditempuh  oleh ulama- ulama sebelumnya.Apabila Ar Ranirin di Aceh mengambil  tariqat Rifa`iyah dan Syekh Abdur Rauf yang lebih dikenal oleh  masyarakat Aceh dengan sebutan Teungku Syiah Kuala mengambil tariqah  Syatariyah maka Syekh Muda Waly memilih Thariqat Naqsyabandiyah,sebuah  tariqat yang popular di Sumatra Barat kala itu .Beliau berguru kepada  seorang Ulama besar Tariqah di sumatar barat kala itu yaitu Syekh Abdul  ghaniy Al Kamfary bertempat di Batu Bersurat,kampar,bangkinang.Beliau  bersuluk disana selama 40 hari lamanya .Menurut sebagian kisah  menyebutkan bahwa selama dalam khalwatnya dengan riyadah dan munajat  berupa mengamalkan zikir zikir sebagaimana atas petunjuk Syekh Abdul  Ghany beliau sempat mengalami lumpuh sehingga tidak bisa berjanji untuk  mandi dan berwudhuk.<br />
Setelah selesai berkhalwat beliau merasakan kelegaan batin yang luar  biasa jauh melebihi kebahagiannya ketika mendapat ilmu yang bersifat  lahiriyah selama ini.Beliau mendapat ijazah mursyid dari Syekh Abdul  Ghani sebagai pertanda bahwa beliau sudah diperbolehkan untuk  mengembangkan thariqah Naqsyabandi yang beliau terima..Setelah mendapat  ijazah thariqah beliau kembali kekota Padang dan mendirikan sebuah  Pesantren yang bernama Bustanul Muhaqqiqin di Lubuk Begalung,  Padang.Sebuah pesantren yang terdiri dari beberapa surau dan asrama.  banyak murid yang mengambil ilmu di pesantren tersebut bahkan juga  santri – santri dari Aceh..Tetapi pada saat jepang masuk kePadang, Syekh  Muda Waly mengambil keputusan pulang ke Aceh karena di Aceh beliau  merasa lebih tenang dan nyaman dalam mengamalkan dan mengembangkan ilmu  yang telah beliau miliki.Sehingga akhirnya Pesantren yang beliau bangun  di Padang lumpuh.</div>
<div><strong>Pulang ke Aceh</strong><br />
Setelah Syekh Muda Waly berjuang menuntut ilmu pengetahuan melalui  pendidikan yang secara lahiriahnya seperti tidak teratur,tetapi pada  hakikatnya bagi Allah S.W.T.,perjalanan pendidikan beliau selama ini  membawa beliau naik ke tingkat martabat ulama dan hamba Allah yang  shalih. Maka dengan hasil perjalanan pandidikannya serta  pengalaman-pengalaman yang beliau dapati selama ini, rasanya bagi beliau  sudah cukup dijadikan pokok utama untuk mengembangkan agama Allah ini  dengan pendidikan pesantren di tempat beliau dilahirkan, di blang poroh  Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Meskipun pada waktu itu kata  Darusssalam itu belum ada, dan adanya nama ini setelah beliau mendirikan  pesantrten di desa beliau sendiri.<br />
Lebih kurang pada akhir tahun 1939, beliau kembali ke Aceh Selatan  melalui parahu layar dari Padang ke Aceh di kecamatan Labuhan  haji.Beliau disambut dengan meriah oleh ahli famili, para teman dan  masyarakat, Labuhan Haji. Setelah beberapa hari beliau berada di  desanya, maka beliau bertekad membagun sebuah pasantren. Pembangunan  sebuah pesantren kali pertama tentu seadanya saja. Maka beliau hanya  mendirikan sebuah surau bertingkat dua. Pada tingkat dua di atas sebagai  tempat tinggal beliau beserta keluarga, sedangkan pada tingkat bawah  dan yang masih tersisa di atas dipergunakan sebagai tempat ibadah.Lahan tempat mendirikan musholla yang diberi oleh famili beliau  sangat terbatas, sedangkan jamaah sudah mulai kelihatan  berbondong-bondong datang ke surau beliau. Ibu-ibu pada malam selasa dan  harinya, sedangkan bapak-bapak pada malam rabu dan harinya pula. Oleh  karena itu, maka beliau ingin memperluas lahan untuk betul-betul memulai  sebuah pesantren yang dapat menampung santri-santri dengan tempat  tinggalnya sekalian, yang dalam istilah Aceh, disebut dengan  rangkang-rangkang. Maka beliau berusaha untuk membeli tanah sekitar  surau yang ada. Beliau membeli tanah untuk pembangunan pesantren sedikit  demi sedikit, hingga mencapai ukuran 400×250 m2. Di atas tanah itulah  beliau menampung santri-santri yang berdatangan sedikit demi sedikit,  dari Kecamatan Labuhan Haji, dari kecamatan-kecamatan di Aceh Selatan,  bahkan juga dari berbagai kabupaten di Daerah Istimewa Aceh.  Berkembanglah pesantren itu, sehingga pelajar-pelajar dari luar  daerahpun pada berdatangan, khususnya dari berbagai propinsi di Pulau  Sumatra.Pesantren itu beliau bagi-bagi atas berbagai nama, sebagai berikut;<br />
Pertama: Darul-Muttaqin;di bagian ini terletak lokasi madrasah, mulai  dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi dan di sampingnya dibangun  sebuah surau besar selaku tempat ibadah. Khususnya dalam pengembangan  tariqat Naqsyabanditah dan dijadikan tempat khalwat atau suluk 40 hari  selama ramadhan dengan 10 hari sebelumnya, 10 pada awal zulhijjah, 10  hari pada bulan Rabiul awal<br />
Kedua : Darul `Arifin ;dilokai ini bertempat tinggal guru guru ynag  sebagian besar sudah berumah tangga.Lokasinya agak berdekatan dengan  pantai Laut Samudra Hindia<br />
Ketiga : Darul Muta`allimin ;Ditempat ini bertempat tinggal para santri  pilihan diantaranya anak syekh Abdul ghani Al kampari,guru tasauf Syekh  muda Waly .<br />
Keempat : Darus salikin ;dilokasi ini banyak asrama asrama tempat  tinggal para pelajar penuntut ilmu yang juga digunakan sebagai tempat  berkhalwat.<br />
Kelima : Darul zahidin ;lokasi yang paling ujung dari lokasi pesantren  Darussalam ini .Kalau bukan karena tempat lainnya sudah penuh,maka  jarang seklai santri yang mau tinggal di lokasi ini apalagi tempat ini  pada mulanya merupakan tambak udang dan ikan .<br />
Keenam : Darul Ma`la ;lakasi ini merupakan lokasi nomr satu karena  tanhnya tinggi dan udaranyapun bagus dan terletak dipinggir jalan .</p>
<p>Semua lokasi ini dinamakan oleh syekh Muda waly dengan nama demikian  sebagai tafaul kepada Allah semoga semua santri yang belajar disitu  menjadai hamba hamba Allah yang senatiasa menuntut ilmu (Al  Muta`allimin),hamba hamba yang zahid, mengutamakan akhirat dari pada  dunia (Az-Zahidin),hamba hamba yang shalih mendapat tempat terhormat  baik disisi Allah maupun dalam pandangan masyarakat .<br />
Tak lama kemudian beliau menikah dengan seorang wanita dari desa  pauh,Labuhan Haji.Kemudian beliau mendirikan sebuah pesantren lain di  ibu kpta kecamatan.Pesantren ini merupakan sebuah pesantren  khusus,pelajarnya juga tidak banyak .para pelajar di pesantren ini  secara langsung berhadapan dengan kaum orang orang yang berfaham wahabi  sewhingga mendatangkan persaingan pengembangan ilmu pengetahuan agama  melalui perdebatanm yang diadakan para pelajar membahas masalah masalah  khilafiyah dengan dalil dalilnya menurut pendirian ulama ahlussunnah  waljamaah .Dipesantren inilah diadakan pengajian yang dikuti oleh semua  lapisan masyarakat bahkan juga dikuti oleh kalangan Muhammadiyah dan  golongan Salik Buta sehingga menjadikan majlis ini majlis yang dipenuhi  dengan pertanyaan dan debatan yang ditujukan kepada Syekh Muda  Waly.namun semuanya dapat di jawab oleh Syekh Muda Waly dengan jawaban  ilmiah yang memuaskan</p>
<p><strong>PENDIDIKAN PESANTREN </strong>Di pesantren yang beliau bangun itu Syekh Muda Waly mengajarkan  kepada masyarakat ilmu agama.Khusus untuk kaum ibu pada hari malam  selasa,senin,atau malam senin.Pada malam senin kaum ibu ibu mendapat  ceramah agama dari guru guru yang telah ditetapkan oleh beliau  .sedangkan pada selasa pagi sebelum zuhur,setelah pengajian subuh,semua  kaum ibu ibu yang bermalam di pesantren ikut membangaunn pesantren  dengan menimbun sebagian lokasai pesantren yang belum rata dengan batu  yang diambil dari pantai.Satu yang aneh dan luar biasa,batu itu  dihempaskan oleh gelombang air laut kepantai dan batu batu itu berwarna  putih bersih.Dan ini hanya terjadi di pantai yang berada di dekat  pesantren. Setelah shalat Dhuhur para ibu ibu tersebut mendapat ceramah  dari guru yang telah ditentukan oleh Syekh Muda Waly yang kemudian  lanjutkan dengan tawajuh dalm tariqat Naqayabandyah dan shalat  ashar.Sedangkan waktu untuk kaum laki laki dalah pada selasa malam mulai  maghrib hingga larut malam.<br />
Pada setiap bulan Ramadan Syekh Muda waly mengadakan khalwat untuk  masyarakat yang dimulai sejak sepuluh hari sebelum Ramadan sampai harai  raya idul fitri.Ada yang berkhalwat selama 40 hari ada juga yang 30 hari  dan ada juga yang 20 hari.Selain dalam bulan Ramadan ,khalwat juga  diadakan dalam bulam Rabiul awal selama 10 hari.Demikian juga pada bulan  Zulhijjah selama 10 hari semenjak tanggal satu sampai 10 Zulhijjah.<br />
Sistem pendidikan pesantren yang diterapkan oelh syekh Muda Waly terbagi kepada dua:<br />
Pertama:sistem qadim,yakni sitem pendidikan yang telah berjalan bagi  para ulama sebelumnya.Sistem ini menekankan supaya kitab kitab yang  dipelajari mesti khatam.Oleh Karena guru hanya membaca,menerjemahkan dan  menjelaskan sepintas lalu makna yang terkandung di dalamnya .Menurut  beliau sitem ini kita bagaikan naik bus pada malam hari,yang kita lihat  hanyalah jalan yang disorot oleh lamu bus saja.walaupun perjalanannya  panjang dan banyak yang kita lihat tetapi hanyalah sekedar jalan yang  diterangi oleh lampu bus saja,sedangakan dikiri kanannya kita tidak  melihatnya .<br />
Kedua:sistem madrasah.Pada sitem ini para pelajar sudah mengunakan  bangku dan papan tulis.Pada sitem kedua ini tidak ditekankan pada khatam  kitab,tetapi harus banyak diskusi untuk pendalaman.Sewbagai  contoh,apabila pelajaran fiqh yang dibaca adalah kitab Tuhfah Al Muhtaj  syarah Minhajul Thalibin,maka yang dibaca hanya sekitar 10 baris  saja,dilanjutkan dengan pembahasan pada matannya,syarahnya serta hasyiah  hasyiahnya serta pendalaman berdasarkan dalil dalilnya baik dari Al Qur  an,Al Hadis ataupun disiplin ilmu lainnya.ini memang memakan waktu yang  lama ,tetapi bila para santri terbiasa dengan sstem ini maka akan  menghasilkan pemahaman yang mendalam dalam memahami kitab kuning.Rupanya  kedua sitem ini sangat menarik sehingga banyak santri yang berdatangan  ke Darussalam yang berasal dari berbagai daerah.<br />
Syekh Muda Waly mengamalkan ilmunya dengan luar biasa.pukul 6.00 pagi  beliau mengajar semua santri muali dari tingkat yang paling rendah  sampai yang paling tinggi.Disini terbuka pintu bagi semua santri untuk  menanyakan segala sesuatu tentang lafaz yang beliau baca..Pukul 9.00  pagi setelah sarapan dan shalat dhuha belaiu menagjar pada tingkat yang  lebih tinggi,yang terdiri dari para dewan guru.kitab yang dibaca adalah  Tuhfah Al Muhtaj,jam`ul jawami` dan kitab besar lainnya samapai waktu  ashar.Sesudah asar beliau juga menyediakan waktu bagi siapa saja yang  berminat mengambil ilmu dari beliau.Syekh Muda Waly sangat disiplib  dalam menagjar sehingga dalam kondisi sakitpun beliau tetap  mengajar.Pernah pada satu kali pada saat beliau sakit.para murid beliau  sepakat untuk tidak mendebat beliau,tetapi hanya mendengarkan penjelasan  dari beliau.Rupanya hal ini membuat beliau marah,kenapa para murid  beliau tidak mendebat beliau.Pertanyaan dan debatan dari murid mrid  beliau rupanya menjadi obat yang sangat mujarab bagi beliau.Tetapi  beberapa saat setelah mengajar beliau kembali jatuh sakit.Ketekunan dan  kedisiplinan beliau dalam mendidik muridnya telah membuahkan hasil yang  luar biasa,sehingga dari beliau lahirlah puluhan ulama ulama yang  menjadi benteng Ahlussunnah di Aceh dan sekitarnya Hampir seluruh  pesantren di Aceh sekarang ini mempunyai pertalian keilmuan dengan  beliau dan dari murid murid beliau lahir pulalah ulama ulama terpandang  dalam masyarakat.Dengan adanya perjuangan beliau perkembangan faham  wahabi dan ide pembaruan terhadap ajaran islam yang telah menjalar ke  sebagian tokoh tokoh di Aceh dapat ditekan Beliau sangat istiqamah  dengan faham Ahlussunnah dan mazhab syafii Diantara murid murid beliau  adalah<br />
1. Al Marhum Tgk. H.Abdullah Hanafiah Tanoh Mirah,pimpinan Dayah darul Ulum, Tanoh Mirah,Bireun<br />
2..Al Marhum Tgk.Abdul Aziz bin Shaleh,pimpinan pesantren MUDI MESRA(Ma`hadal Ulum Diniyah Islamiyah)Samalanga,Bireun.<br />
3.Al Marhum Tgk. Muhammad Amin Arbiy.Tanjongan,Samalanga,Bireun.<br />
4. Tgk. H.Muhammad Amin Blang Bladeh(Abu Tumin)pimpinan pesabtren Al Madinatut Diniyah Babussalam,Blang Bladeh Bireun.<br />
5. Teungku H.Daud Zamzamy.Aceh Besar.<br />
6. Al Marhum Tgk..Syekh Syihabuddin Syah(Abu Keumala)pimpinan pesantren Safinatussalamah , Medan.<br />
7. Teungku Adnan Mahmud pendiri pesantren Ashabul Yamin Bakongan Aceh Selatan .<br />
8. Al Marhum.Tgk Syekh Marhaban Krueng Kalee(putra Syekh Hasan Krueng kale) mantan menteri muda era Sukarno.<br />
9. Al MarhumTgk.Muhammad Isa Peudada<br />
10. Al MarhumTgk.ja`far Shiddiq Kuta Cane<br />
11. Al MarhumTgk. Abu Bakar sabil,Meulaboh Aceh Barat<br />
12. Al MarhumTgk.Usman fauzi.Cot Iri,Aceh Besar.<br />
13. Syekh.prof.Muhibbuddin waly (putra beliau sendiri yang paling tua)<br />
14. Al Marhum Syekh Jailani<br />
15. .Al Marhum Syekh Labai sati , Padang Panjang<br />
16. Al Marhum Tgk.. Qamaruddin ,Teunom.Aceh Barat<br />
17. Tgk.Syekh Jamaluddin Teupin Punti,Lhok sukon,Aceh utara<br />
18. Tgk.Syekh Ahmad Blang Nibong Aceh Utara<br />
19. Tgk.Syekh Abbas Parembeu,Aceh Barat<br />
20. Tgk.Syekh Muhahammad Daud,Gayo<br />
21. Tgk.Syekh Ahmad,Lam Lawi,Aceh Pidie<br />
22 Tgk.Muhammad Daud Zamzami,Aceh Basar.<br />
23. Tuanku Idrus, Batu Basurek,Bangkinang<br />
24. Al Marhum Tgk.Syekh Amin Umar,Panton labu<br />
25 Syekh Nawawi Harahap,Tapanuli<br />
26. Al Marhum Tgk Syekh Usman Basyah,Langsa<br />
27. Tgk.Syekh Karimuddin,Alue Bilie,Aceh Utara<br />
28. Tgk.Syekh Basyah Kamal Lhoung,Aceh Barat<br />
Dan lain lain banyak lagi…..</p>
</div>
<div>Selain meninggalkan murid,beliau juga meninggalkan beberapa tulisan diantaranya :<br />
1.Al fatwa,Sebuah kitab dalam bahasa indonesia dengan tulisan  arab,berisi kumpulan fatwa beliau mengenai berbagai macam permasalahan  agama<br />
2.Tanwirul anwar,berisi masalah masalah aqidah<br />
3,Risalah adab zikir ismuz Zat<br />
4.Permata Intan,sebuah risalah singkat berbentuk soal – jawab mengenai masalah i`tidaq<br />
5.Intan Permata,risalah singkat berisi masalah tauhid<br />
Dalam risalah yang terakhir (Intan Permata) beliau memberi keputusan  tentang perdebatan Syekh Ahmad Khatib dengan Syekh Sa`ad Mungka,beliau  menyebutkan:<br />
“Ketahuilah hai segala ummat Ahlissunnah waljamah,bahwasanya karangan  yang mulia Syekh Ahmad al Khatib yang bernama:Izhar  Zighlil-Kazibin,tentang membantah Rabithah dan Thariqat naqsyabandiyah  itu adalah silap dan salah paham dari Syekh yang mulia itu,karena beliau  itu telah ditolak oleh yang mulia Syekh Sa`ad Mungka Payakumbuh(Sumatra  Tengah)dengan kitabnya Irghamu Unufil Muta`annitin.Kemudian kitab ini  dijawab pula oleh yang mulia Syekh Ahmad al khatib dengan kitabnya as  Saiful Battar.Kitab ini pun ditolak oleh yang mulia Syekh As`ad Mungka  dengan kitabnya yang bernama Tanbihul `Awam.Pada akhirnya patahlah kalam  Tuan Syekh Ahmad al-Khatib .karena itu maka hamba yang faqir ini,Syekh  Muhammad waly al Khalidy sebabnya mengambil Thariqat Naqsyabandiyah  adalah setelah muthala`ah pada karangan karangan Syekh Ahmad Khathib dan  karangan karangan Syekh Sa`ad Mungka dimana antara karangan kedua-dua  orang ulama itu sifatnya soal jawab dan debat-berdebat.perlu diketahui  bahwa Tuan Syekh Ahmad Khatib itu murid Sayyid syekh Bakrie bin sayyid  Muhammad Syatha.Sedangkan Tuan Syekh As`ad Mungkar murid Mufti Az  Zawawy,gurunya Syekh Usman Betawi yang masyhur itu.Maka muncullah  kebenaran ditangan Tuan Syekh Sa`ad Mungka apalagi saya telah melihat  pula kitab as Saiful Maslul karangan ulama Madinah selaku menolak kitab  Izhar Zighlil Kazibin.Oleh sebab itu bagi murid muridku yang melihat  karanagn syekh Ahmad Khatib itu janganlah terkejut,karena karangan  beliau itu ibarat harimau yang telah dipancung kepalanya.”<br />
Syekh Muda Waly bukan hanya berperan dalam menyebarkan ilmu agama  saja.Tapi beliau memiliki andil yang besar dalam mempertahankan  kemerdekaan dan keutuhan Republik Indonesia.Dalam mempertahankan  proklamasi 17 agustus 1945 para ulama Aceh tampil kedepan dengan  mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah dan mendirikan barisan barisan  perjuangan.Pada tanggal 18 Zulqa`dah 1364 Teung Syekh Hasan Krueng Kalee  mengeluarkan fatwa dengan menyatakan bahwa perjuangan mempertahankan  Republik Indonesia dan berperang menetang musuh musuh Allah adalah suatu  kewajiban dan apabila mati dalam peperangan itu akan mendapat pahala  syahid .Disamping itu juga diterangkan pula hendaklah ummat islam  mengorbankan jiwa dan harta untuk menolong agama Allah dan menolong  negara yang sah.fatwa itu dusebarkan luas keseluruh Aceh melalui pemuda  pemuda Aceh yang tergabung dalam Barisan Pemuda Indonesia yang kemudian  menjadi Pemuda republic Indonesia.<br />
Berdasarkan itu Syekh Muda Waly di Labuhan Haji memperkuat fatwa  tersebut melalui pengajian pengajian dan ceramah ceramah umum.bahkan  beliau menjabat sebagai pimpinan tertinggi dalam bariasabn  Hizbullah,meskipun dalam pelaksanaannya banyak diserahkan kepada  keponakannya yang juga merupakan seorang ulama muda yang kemudian  menjadi menantu beliau.Di samping itu PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) -<em>PERTI di bawa dari padang oleh Syeikh Muda Wali ke Aceh</em>- yang dipimpin oleh Nya&#8217;`  Diwan telah membawa satu barisan perjuanagan dari Sumatra barat yang  disebut Lasmi (Laskar Muslimin Indonesia)-.Antara kedua laskar ini saling  mengisi demi memperjuangkan Ahlussunnah dan mempertahankan kedaulatan  Negara dari tangan penjajah.</div>
<div><strong>Peristiwa berdarah di Aceh</strong><br />
Dalam mempertahankan keutuhan negara Indonesia beliau juga memiliki  peran ynag sangat penting.Pada tanggal 13 Muharram 1373 /21 september  1953 meletuslah peristwa berdarah di Aceh yaitu peristiwa DI/TII yang  dipimpin oleh Tgk.Muhammad Daud Bereueh,mantan gubernur militer Aceh  Langkat dan Tanah Karo dan mantan gubernur Aceh dan merupakan salah  seorang pemimpin utama PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh).Beliau memang  tidak bergabung dalam PUSA karena sebagian besar ulama ynag bergabung  dalam PUSA telah terpengaruh dengan ide pembaruan dalam Islam dari  Minangkabau.<br />
Dalam hal ini para ulama besar di Aceh yang terdiri dari Kaum Tua antara  lain Syekh Muda waly,Syekh Hasan Krueng Kalee,Teungku Abdul Salam  Meuraksa,Teungku Saleh Mesigit Raya dan ulama lainnya tidak mendukung  gerakan ini,karena mereka mengetahui bahwa latar belakang kejadian ini  bukanlah hal hal yang dikaitkan dengan agama tetapi hanyalah hal hal  yang dikaitkan denagn dunia semata.oleh karena itu para ulama terszebut  mengeluarkan fatwa mengutuk pemberontakan tersebut atas nama para ulama  ulama tersebut.tetapi karena semua ulama tersebut berada dalam PERTI  maka penonjolannya lebih terlihat atas nama PERTI.Teungku Syekh Muda  Waly pada tanggal 18 November 1959 dalam suatu rapat umum di Labuhan  Haji mengharamkan pemberontakan tersebut,dan beliau menyatakan siap  memberi bantuan menurut kesanggupan beliau.para ulama ulama tersebut  sangat menyayangkan kenapa faktor faktor pemberontakan tersebut tidak di  musyawarahkan terlebih dahulu dengan para ulama- ulama besar di  Aceh.Sehingga segala permasalahan dapat diselesaikan tanpa harus melalui  peristiwa berdarah.Karena jasa beliau itu,beliau pernah diundang oleh  Presiden Sukarno ke istana Bogor pada tahun 1957untuk menghadiri  Konferensi Ulama Indonesia untuk memutuskan kedudukan Presiden Sukarno  menurut Islam.dalam konferensi tersebut beliau para ulama dari seluruh  Indonesia sepakat menyatakan bahwa presiden Sukarno itu presiden yang  sah dengan prediket Wali al amri al Dharury bi al syaukah.<br />
Setelah berjuang demi tegaknya agama ini,akhirnya Syekh Muda Waly  kembali kehadapan Allah padsa tanggal 11 syawal 1381/20 maret 1961 tepat  pukul 15.30 WIB hari selasa.Jenazah beliau di shalatkan oleh ulama dan  murid murid beliau serta masyarakat yang terjangkau kehadirannya ke  Dayah Labuhan Haji,karena pada zaman itu kendaraan umum masih sangat  minim di Aceh selatan.Beliau dimakamkan dalam komplek Dayah Labuhan Haji  yang beliau pimpin.Selanjutnya kepemimpinan Pesantren tersebut  dilanjutkan oleh putra putra beliau secara bergantian antara lain Syekh  Muhibbuddin Waly,Syekh Jamaluddin Waly,Syekh Mawardi Waly,Syekh Nasir  Waly,Syekh Ruslan Waly dan putra putra beliau lainnya.Hal ini karena  hampir semua putra beliau menjadi ulama ulama terkemuka.Beliau bukan  hanya berhasil dalam mendidik murid muridnya tetapi juga berhasil  mendidik putra putranya menjadi ulama ulama yang gigih mempertahankan  faham Ahlussunnah wal jamaah.Keberhasilan beliau dapat terlihat dengan  jelas,dimana sekarang ini hampir semua pesantren tradisional di Aceh  mempunyai silsilah keilmuan dengan beliau.</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=113&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/syeikh-haji-muhammad-muda-waly-al-khalidy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/abuya.jpg?w=211" medium="image">
			<media:title type="html">ABUYA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dakota RI-001 Seulawah</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/dakota-ri-001-seulawah/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/dakota-ri-001-seulawah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 17:41:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia. Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=109&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>D</strong>akota  RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia  yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001  Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga  pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam  perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.</p>
<p><a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/seulawah.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-110" title="Seulawah" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/seulawah.jpg?w=300&#038;h=208" alt="" width="300" height="208" /></a></p>
<p><span id="more-109"></span>Pesawat Dakota DC-3  Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96  meter, ditenagai dua mesin Pratt &amp; Whitney berbobot 8.030 kg serta  mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.</p>
<p><strong>Sejarah</strong><br />
KSAU  Komodor Udara Suryadarma memprakarsai pembelian pesawat angkut. Biro  Rencana dan Propaganda TNI-AU yang dipimpin oleh OU II Wiweko Supono dan  dibantu oleh OMU II Nurtanio Pringgoadisuryo dipercaya sebagai  pelaksana ide tersebut.</p>
<p>Biro  tersebut kemudian menyiapkan sekira 25 model pesawat Dakota. Kemudian,  Kepala Biro Propaganda TNI AU, OMU I J. Salatun ditugaskan mengikuti  Presiden Soekarno ke Sumatra dalam rangka mencari dana.</p>
<p>Pada  tanggal 16 Juni 1948 di Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil  membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Melalui sebuah kepanitiaan yang  diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan  sumbangan dari rakyat Aceh setara dengan 20 kg emas.</p>
<p>Dana  tersebut kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan  menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat  Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001  Seulawah. Seulawah sendiri berarti &#8220;Gunung Emas&#8221;.</p>
<p>Kehadiran  Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan  Jawa-Sumatra, bahkan hingga ke luar negeri. Pada bulan November 1948,  Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatra  dengan rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Maguwo.</p>
<p>Di  Kutaraja, pesawat tersebut digunakan joy flight bagi para pemuka rakyat  Aceh dan penyebaran pamflet. Pada tanggal 4 Desember 1948 pesawat  digunakan untuk mengangkut kadet ALRI dari Payakumbuh ke Kutaraja, serta  untuk pemotretan udara di atas Gunung Merapi.</p>
<p>Pada awal Desember  1948 pesawat Dakota RI-001 Seulawah bertolak dari Lanud Maguwo-Kutaraja  dan pada tanggal 6 Desember 1948 bertolak menuju Kalkuta, India.  Pesawat diawaki Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot OU III Sutardjo Sigit,  juru radio Adisumarmo, dan juru mesin Caesselberry. Perjalanan ke  Kalkuta adalah untuk melakukan perawatan berkala. Ketika terjadi Agresi  Militer Belanda II, Dakota RI-001 Seulawah tidak bisa kembali ke tanah  air. Atas prakarsa Wiweko Supono, dengan modal Dakota RI-001 Seulawah  itulah, maka didirikanlah perusahaan penerbangan niaga pertama,  Indonesian Airways, dengan kantor di Birma (kini Myanmar).</p>
<p><strong>Monumen</strong><br />
Seiring  dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang kedirgantaraan,  beberapa jenis pesawat terbang generasi tua pun dinyatakan berakhir masa  operasinya. Salah satunya adalah jenis Dakota.</p>
<p>Namun, karena  jasanya yang dinilai besar bagi cikal bakal berdirinya sebuah maskapai  penerbangan komersial di tanah air, TNI AU memprakarsai berdirinya  sebuah monumen perjuangan pesawat Dakota RI-001 Seulawah di Banda Aceh.</p>
<p>Pada  tanggal 30 Juli 1984, Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pun  meresmikan monumen yang terletak di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.</p>
<p>Monumen ini menjadi lambang bahwa sumbangan rakyat Aceh sangatlah besar bagi perjuangan Republik Indonesia di awal berdirinya.</p>
<p>(<em>Sumber : historyofaceh.blogspot.com)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=109&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/dakota-ri-001-seulawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/seulawah.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Seulawah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>History of struggle Sang Wali Nanggroe</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/history-of-struggle-sang-wali-nanggroe/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/history-of-struggle-sang-wali-nanggroe/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 17:26:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Aceh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[In Memorian Hasan Tiro “Tumbuh suburkan terus perdamaian Aceh. Andai saya mati besok, perdamaian Aceh harus tetap berlanjut.” (Hasan Tiro, 11 Oktober 2008) TEUNGKU HASAN TIRO yang telah tutup usia menjelang 85 tahun adalah sosok yang sangat cinta Aceh, seperti kecintaannya terhadap Indonesia pada awalnya. Ia tadinya nasionalis sejati, mengabdi sepenuh hati untuk republik ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=102&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/83-tahun-yang-berarti1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-106" title="83 tahun yang berarti" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/83-tahun-yang-berarti1.jpg?w=147&#038;h=150" alt="" width="147" height="150" /></a></em></strong><strong>In Memorian Hasan Tiro</strong></p>
<p><strong><em> “Tumbuh  suburkan terus perdamaian Aceh. Andai saya mati besok, perdamaian Aceh  harus tetap berlanjut.” (Hasan Tiro,  11 Oktober 2008)</em></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p><span id="more-102"></span></p>
<div>TEUNGKU HASAN TIRO  yang telah tutup usia menjelang 85 tahun adalah sosok yang  sangat cinta Aceh, seperti kecintaannya terhadap Indonesia pada awalnya.  Ia tadinya nasionalis sejati, mengabdi sepenuh hati untuk republik ini.  Bahkan saat berumur 20 pada tahun 1945 ia ikut menggerek Bendera Merah  Putih di kampungnya, Tanjong Bungong, Pidie.Hasan Tiro muda  mendapat banyak pengajaran tentang nasionalisme dari guru idolanya, HM  Nur El-Ibrahimi. Itu sebab, ketika tokoh-tokoh Aceh mendukung  kemerdekaan Indonesia, Hasan Tiro yang masih muda langsung bergabung  dalam Barisan Pemuda Indonesia di daerahnya. Lalu pada 24 September  1945, keluarga besar Tiro, termasuk pamannya, Umar Tiro, mengaku setia  kepada Indonesia.</p>
<p>Ia juga tak pernah menampik ketika mendapat  beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk kuliah di Universitas Islam  Indonesia (UII) Yogyakarta. Karena jenius, Hasan Tiro direkomendasikan  Teungku Daud Beureueh kepada Perdana Menteri Indonesia waktu itu,  Syafruddin Prawiranegara, untuk kuliah di UII. Hasan Tiro diterima di  Fakultas Hukum dan tamat tahun 1949. Di universitas ini namanya tercatat  sebagai pendiri Pustaka UII bersama Kahar Muzakkar, tokoh Sulawesi  Selatan yang kelak menggerakkan pemberontakan DI/TII bersama Daud  Beureueh dan Imam Kartosuwiryo (1953-1962).</p>
<p>Tamat dari UII, Hasan  Tiro kembali ke Aceh, bekerja pada Pemerintahan Darurat Republik  Indonesia (PDRI) di bawah Perdana Menteri Syarifuddin Prawiranegara.  Saat itu ibu kota negara dipindah ke Aceh, mengingat Yogyakarta sebagai  ibu kota Indonesia sudah dikuasai Belanda saat terjadi agresi kedua  Belanda.</p>
<p>Saat umurnya 25 tahun, pria kelahiran 25 September 1925  ini terpilih sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan  pendidikan program magister dan doktoral di Universitas Columbia,  Amerika Serikat (AS). Ia akhirnya kuliah di Jurusan Politik dan Hukum  Internasional. Disertasi doktornya yang berjudul “Konstitusionalisme  Kesultanan Aceh” menunjukkan betapa ia paham dan cinta Aceh.</p>
<p>Sambil  kuliah, Hasan Tiro bekerja pada Perutusan Tetap RI di Perserikatan  Bangsa-Bangsa yang berkantor di New York.  Tapi karena merasa Jakarta  “melukai” Aceh, nuraninya berontak, lalu berbalik memusuhi Pemerintah  Indonesia. Ia bahkan rela melepas jabatan Staf Penerangan PTRI untuk  PBB, semata-mata demi Aceh.</p>
<p>Itu terjadi ketika ia&#8211;berdasarkan  mandat yang diberikan Teungku Daud Beureueh, pemimpin DI/TII di  Aceh&#8211;mendaftarkan diri sebagai Menteri/Duta Besar Darul Islam  Indonesia/Negara Islam Indonesia di PBB pada tahun 1954, saat DI/TII  bergolak di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Tapi  PBB menolak Hasan Tiro.</p>
<p>Awalnya nurani Hasan Tiro tergetar saat  mendapat kabar di New York bahwa sekitar 92 warga sipil di Pulot, Cot  Jeumpa Leupung, Aceh Besar, dibantai serdadu republik pada 26 Februari  1954. Ini ekses akibat ditembaknya belasan prajurit Indonesia oleh  mujahidin DI/TII Aceh dua pekan sebelumnya. Karena para mujahid sudah  menghilang dari kawasan itu, maka warga sipillah yang dijejerkan di  pinggir laut, lalu ditembak mati. Hanya satu yang tersisa hidup. Ia pula  yang membeberkan pembantaian sadis itu kepada Acha, wartawan Harian  Peristiwa. Asahi Simbun, Washington Post, dan New York Times ikut  melansir berita tersebut, sehingga Hasan Tiro membacanya.</p>
<p>Dari  kota “melting pot” New York, spontan ia layangkan surat pada 1 September  1954 kepada Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo. Ia desak  Indonesia minta maaf dan mengakui bahwa pembantaian warga sipil tersebut  merupakan genosida (pembantaian etnis Aceh). Para pelaku dia minta  dihukum berat.</p>
<p>Ia beri tenggat waktu sekitar dua minggu kepada  Ali Sastro merespons tuntutannya. Jika tidak, maka Hasan Tiro akan resmi  mendaftarkan dirinya sebagai Dubes Darul Islam Indonesia di PBB. Karena  Ali Sastro tak menggubris, gertakan itu akhirnya jadi kenyataan. Ini  pemberontakan pertama Hasan Tiro kepada Indonesia. Akibatnya, paspor  diplomatiknya dicabut, sehingga ia menjadi sosok yang tak punya  kewarganegaraan (stateless). Untung ia tak ditahan Imigrasi AS, karena  mampu membayar denda 500 US dolar. Untung pula ada dua senator AS  kenalannya yang membuat rekom, sehingga Hasan Tiro mendapat status  permanent residence di New York.</p>
<p>Setamat kuliah S3 di Columbia  University, Hasan Tiro menikahi Dora, perempuan keturunan Iran  berkebangsaan Amerika. Dari basil perkawinan itu, pasangan ini  dianugerahi putra tunggal, Karim Tiro.</p>
<p>Jauh dari Aceh makin  menambah rasa keacehannya. Apalagi dia menganggap Aceh yang merupakan  daerah modal justru dikhianati dan dilecehkan Jakarta. Baginya,  Indonesia terlalu luas untuk diatur secara sentralistik dari Jakarta.  Pada tahun 1958, Hasan Tiro menuangkan pemikiran dalam buku berjudul  “Demokrasi untuk Indonesia”. Di situ ia tawarkan federasi sebagai bentuk  Pemerintah Indonesia. Jadi, sebetulnya sejak DI/TII bergolak pada  1950-an, sudah tertanam benih-benih “Aceh harus bebas dari penindasan  Jakarta” di benak Hasan Tiro. Kristalisasi ini berbuah pada 4 Desember  1976, saat ia deklarasikan Aceh Merdeka di Bukit Halimon, Luengputu,  Pidie.</p>
<p>Ada dua dokumen penting yang dia dapat di Markas PBB yang  membulatkan tekadnya untuk memisahkan Aceh dari Indonesia. Dokumen itu  berupa Resolusi PBB tentang Hak untuk Menentukan Nasib Sendiri (Right to  Self Determination). Dokumen lainnya, berupa resolusi bahwa negara  kolonial tidak boleh menyerahkan anak jajahannya kepada negara lain. Ia  menilai, Perang Belanda terhadap Aceh tidak menyebabkan Aceh takluk dan  dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Selain itu, Belanda tak berdasar  menyerahkan Aceh&#8211;melalui Konferensi Meja Bundar 1949&#8211;kepada Indonesia  (Jawa), mengingat Belanda tak berkuasa penuh atas Aceh, malah lari  meninggalkan Aceh, setelah tentara Jepang diundang ulama masuk Aceh.</p>
<p>Ditambah  alasan-alasan sejarah, etnosentris, dan penguasaan ekonomi oleh Jakarta  atas Aceh, membuat Hasan Tiro punya banyak alasan menyambung perjuangan  kakek buyutnya, Tgk Chik Di Tiro, untuk mempertahankan kedaulatan Aceh.  Ia mengimajinasikan sebuah negara/kerajaan sambungan (succesor state).  Untuk itu, Aceh harus mandiri dari Indonesia.</p>
<p><strong>Tinggalkan Dora dan Karim</strong><br />
Untuk  mewujudkan obsesinya, pada 4 September 1976, Hasan Tiro meninggalkan  kehidupan penuh glamor, istri yang cantik (Dora), dan anak semata wayang  (Karim) yang baru berumur 6 tahun di Riverdale, New York, lalu ia  kembali ke Aceh untuk berjuang memisahkan Aceh. Pada 4 Desember 1976 ia  deklarasikan Aceh Merdeka. Ini maklumat perang untuk Indonesia. Sejak  itu, resmilah Hasan Tiro untuk kedua kalinya menjadi musuh utama  republik. Padahal awalnya, Hasan Tiro itu orang republik, sangat  republiken, tapi akhirnya melawan republik karena ia merasa Jakarta  mengkhianati Aceh lebih dari sekali.</p>
<p>Tahun 1981 ia tulis buku  “The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan Tiro”.  Catatan harian yang tak kunjung selesai itu ia tulis selama bergerilya  di hutan Aceh. Menurutnya, hanya orang gila yang mau melakukan itu,  mengingat tadinya ia hidup enak di New York. Hampir tiga dasawarsa  perjuangan memerdekakan Aceh itu dia pimpin. Pengikutnya makin  bertambah, demikian pula persenjataan dan personel terlatih. Semakin  gencar GAM berjuang, semakin represif pula respons aparat keamanan  Indonesia. Lalu, korban berjatuhan di sana-sini, lebih dari 33.000 orang  tewas.</p>
<p>Tapi akhirnya, celah menuju damai tersibak. Setelah JoU  Jeda Kemanusiaan pada tahun 2000 gagal, berganti dengan darurat militer  dan darurat sipil, Allah menggenapkan darurat Aceh dengan darurat  tsunami. Sekitar 200.000 warga Aceh meninggal dan hilang. Hasan Tiro  yang saat itu menonton tayangan televisi di Norsborg, Swedia, menitikkan  air mata. Aceh yang ingin dia rebut sedang luluh lantak. Terjerembab ke  titik nadir peradaban. Perlu kondisi damai untuk membangun kembali Aceh  dari keterpurukan.</p>
<p>Lalu, Hasan Tiro dan elite GAM menyahuti  tawaran RI untuk berdamai di Helsinki. Perdamaian ini pula yang  memungkinan Hasan Tiro dan Malik Mahmud yang awalnya paling dicari  aparat keamanan Indonesia, bisa leluasa pulang ke Aceh pada 11 Oktober  2008. Setelah itu ia makin sering bolak balik dari ke Banda Aceh.</p>
<p>Saat  batang usianya mendekati 85 tahun, ternyata ia berjodoh dengan Aceh,  sekaligus dengan Indonesia. Kemarin ia wafat setelah 26 jam menjadi  warga negara Indonesia kembali. Maka, catatan harian tentang dirinya pun  berakhir sudah. Konflik Aceh berujung damai dan Hasan Tiro pun  berpulang dalam damai.</p>
<p>Kita mencatat, Hasan Tiro adalah sosok  sentral yang mempertinggi posisi tawar Aceh di mata Jakarta, sehingga di  taman raya Indonesia, Aceh mendapat status otonomi khusus yang luar  biasa. Terima kasih Teungku, selamat jalan Wali. Sebagaimana ia pesankan  di awal tulisan ini, mari kita tumbuh suburkan terus perdamaian Aceh,  kendati ia sudah tiada.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=102&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/history-of-struggle-sang-wali-nanggroe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/83-tahun-yang-berarti1.jpg?w=147" medium="image">
			<media:title type="html">83 tahun yang berarti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lonceng Cakra Donya-Laksamana Cheng Ho</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/lonceng-cakra-donya-laksamana-cheng-ho/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/lonceng-cakra-donya-laksamana-cheng-ho/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 17:13:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua masayrakat Aceh pasti tau tentang Loceng CakraDonya yang ada di Banda Aceh. Tapi tau kah kita siapa yang mengantarkan nya hingga sampe ke tanah aceh? Dari beberapa artikel lonceng ini diberikan oleh pemerintah China, adalah Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar tangguh sebagai perwakilan bangsa China pada saat itu, untuk menghadiahkan nya kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=97&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/cakradonya.gif"><img class="alignright size-medium wp-image-99" title="cakradonya" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/cakradonya.gif?w=195&#038;h=300" alt="" width="195" height="300" /></a></p>
<p><strong>H</strong>ampir semua masayrakat Aceh pasti tau tentang Loceng CakraDonya yang  ada di Banda Aceh. Tapi tau kah kita siapa yang mengantarkan nya hingga  sampe ke tanah aceh? Dari beberapa artikel lonceng ini diberikan oleh  pemerintah China, adalah Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar  tangguh sebagai perwakilan bangsa China pada saat itu, untuk menghadiahkan nya  kepada Kerajaan Aceh.</p>
<p><span id="more-97"></span>Cheng Ho adalah seorang laksamana China  yang hebat . Perjalannnya lebih jauh daripada Columbus, Vasco da Gamaa  dan pelayar eropa lain yang mungkin lebih kita kenal. Beliau melakukan  perjalanan antar benua 7 kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun.</p>
<p>Tidak  ada ekspansi dan imprealisasi yang dilakukannya seperti halnya  pelayar-pelayar dari bangsa Eropa. Beliau hanya mempropaganda tentang  kejayaan Dinasti Ming. Malah pernah membantu menumpas perompak di  perairan Palembang.</p>
<p>Hal yang lebih membuat saya salut adalah, dia  adalah seorang muslim yang taat dengan ajaran Islam. Kapal yang  digunakan untuk berlayar, 5 kali lebih besar daripada kapal Columbus.  Dalam kurun waktu 1405-1433 , pernah singgah di Kerajaan Samudra Pasai  dan menghadiahi lonceng Cakra Donya kepada kerajaan Aceh.</p>
<p>Sebagai  sosok Muslim beliau perlu di contoh, jaman dahulu muslim sangat kuat  dibanding bangsa Eropa, tapi banyak dari kita baru mengetahui, Pelayaran  Columbus ternayta tidak lebih hebat dari seorang Laksamana Muslim Cheng  Ho..</p>
<p>nb: attachments file, adalah perbandingan kapal Laksamana Cheng Ho dan Columbus</p>
<p>(<em>Sumber : historyofaceh.blogspot.com)</em></p>
<p>sumber:</p>
<p>http://www.chinapage.com/zhenghe.html</p>
<p>http://permai1.tripod.com/chengho.html</p>
<p>http://ms.wikipedia.org/wiki/Galeri_Laksamana_Cheng_Ho</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=97&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/lonceng-cakra-donya-laksamana-cheng-ho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/cakradonya.gif?w=195" medium="image">
			<media:title type="html">cakradonya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laksamana Malahayati (Keumala)</title>
		<link>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/laksamana-malahayati-keumala/</link>
		<comments>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/laksamana-malahayati-keumala/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 17:03:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fendi Satria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fendisatria.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pahlawan yang jarang disebut namanya. pahlawan yang tidak pernah diungkit sejarahnya. Laksamana perempuan pertama di dunia. Petarung garis depan. Pemimpin laskar Inong Balee yang disegani musuh dan kawan. Dialah Laksamana Malahayati&#8221;. Kisah Laksamana Malahayati walaupun tidak banyak, semua bercerita tentang kepahlawanannya. Pada saat dibentuk pasukan yang prajuritnya terdiri dari para janda yang kemudian dikenal dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=89&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div><a href="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/kumalahayati.jpg"><span style="color:#800000;">&#8220;</span><img class="size-thumbnail wp-image-90 alignleft" title="kumalahayati" src="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/kumalahayati.jpg?w=161&#038;h=132" alt="" width="161" height="132" /></a><span style="color:#800000;"><em><strong>Pahlawan  yang jarang disebut namanya. pahlawan yang tidak </strong></em></span><span style="color:#800000;"><em><strong>pernah diungkit  sejarahnya. Laksamana perempu</strong></em></span><span style="color:#800000;"><em><strong>an pertama di dunia. Petarung garis depan. </strong></em></span><span style="color:#800000;"><em><strong>Pemimpin laskar Inong Balee yang disegani musuh dan kawan. Dialah  Laksamana Malahayati&#8221;.</strong></em></span></div>
<blockquote>
<div>
<p><span id="more-89"></span>Kisah Laksamana Malahayati walaupun tidak  banyak, semua bercerita tentang kepahlawanannya. Pada saat dibentuk  pasukan yang prajuritnya terdiri dari para janda yang kemudian dikenal  dengan nama pasukan Inong Balee, Malahayati adalah panglimanya (suami  Malahayati sendiri gugur pada pertempuran melawan Portugis). Konon  kabarnya, pembentukan Inong Balee sendiri adalah hasil buah pikiran  Malahayati. Malahayati juga membangun benteng bersama pasukannya dan  benteng tersebut dinamai Benteng Inong Balee.</p>
<p>Karir militer  Malahayati terus menanjak hingga ia menduduki jabatan tertinggi di  angkatan laut Kerajaan Aceh kala itu. Sebagaimana layaknya para pemimpin  jaman itu, Laksamana Malahayati turut bertempur di garis depan melawan  kekuatan Portugis dan Belanda yang hendak menguasai jalur laut Selat  Malaka.</p>
<p>Di bawah kepemimpinan Malahayati, Angkatan Laut Kerajaan  Aceh terbilang besar dengan armada yang terdiri dari ratusan kapal  perang. Adalah Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di  Indonesia, pada kunjungannya yang ke dua mencoba untuk menggoyang  kekuasaan Aceh pada tahun 1599. Cornelis de Houtman yang terkenal  berangasan, kali ini ketemu batunya. Alih-alih bisa meruntuhkan Aceh,  armadanya malah porak poranda digebuk armada Laksamana Malahayati.  Banyak orang-orangnya yang ditawan dan Cornelis de Houtman sendiri mati  dibunuh oleh Laksamana Malahayati pada tanggal 11 September 1599.</p>
<p>Selain  armada Belanda, Laksamana Malahayati juga berhasil menggebuk armada  Portugis. Reputasi Malahayati sebagai penjaga pintu gerbang kerajaan  membuat Inggris yang belakangan masuk ke wilayah ini, memilih untuk  menempuh jalan damai. Surat baik-baik dari Ratu Elizabeth I yang dibawa  oleh James Lancaster untuk Sultan Aceh, membuka jalan bagi Inggris untuk  menuju Jawa dan membuka pos dagang di Banten. Keberhasilan ini membuat  James Lancaster dianugrahi gelar bangsawan sepulangnya ia ke Inggris.</p>
<p>Ketika  Negara-negara maju berkoar masalah kesetaraan gender terutama terhadap  Negara berkembang dewasa ini, wilayah nusantara telah lama mempunyai  pahlawan gender yang luar biasa. Laksamana perang wanita pertama di  dunia.</p>
<p>Nama Malahayati saat ini terserak di mana-mana, sebagai  nama jalan, pelabuhan, rumah sakit, perguruan tinggi dan tentu saja …  nama kapal perang. KRI Malahayati, satu dari tiga fregat berpeluru  kendali MM-38 Exocet kelas Fatahillah. Bahkan lukisannya diabadikan di  museum kapal selam surabaya. di Pun demikian, entah kenapa tak banyak  yang mengenal namanya. “Siapa sih Malahayati itu?” begitu sering kita  dengar. Hanya ada jawaban, “Oh, dia itu Laksamana“.</p>
<p>Laksamana Malahayati …. grande dame (perempuan yang agung). Pahlawan emansipasi yang terlupakan.</p>
<p>(<em>Sumber : historyofaceh.blogspot.com)</em></p>
<p>SUMBER: http://ndobos.com/archives/133id.wikipedia.org/wiki/Malahayati</p>
</div>
</blockquote>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fendisatria.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fendisatria.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fendisatria.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fendisatria.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fendisatria.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fendisatria.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fendisatria.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fendisatria.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fendisatria.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fendisatria.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fendisatria.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fendisatria.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fendisatria.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fendisatria.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fendisatria.wordpress.com&amp;blog=5661588&amp;post=89&amp;subd=fendisatria&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fendisatria.wordpress.com/2010/10/19/laksamana-malahayati-keumala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5530d5ce933cacca4141be18168a67a7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fendi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://fendisatria.files.wordpress.com/2010/10/kumalahayati.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">kumalahayati</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
